JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM — Pasar logam mulia dunia kembali terguncang! Harga emas global anjlok tajam di bawah level psikologis USD 4.000 per troy ounce pada awal perdagangan pekan ini, Senin (3/11/2025), setelah Pemerintah China resmi mencabut kebijakan insentif pajak bagi pengecer emas.
Langkah mengejutkan ini langsung mengguncang sentimen pasar internasional, mengingat China merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia.
#baca juga:Cemburu Buta Berujung Maut! Pria Lampung Tega Habisi Mantan Istri dengan Tusukan Berulang
#baca juga:Puncak Musim Hujan, BMKG Luncurkan Operasi Modifikasi Cuaca Demi Cegah Banjir Besar!
#baca juga:Honda Resmi Siapkan Produksi Mobil Listrik Lokal di Indonesia, Era Baru Otomotif Nasional Dimulai!
Emas Terjun Bebas ke USD 3.978 per Troy Ounce
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot turun 0,6% ke posisi USD 3.978 per troy ounce di sesi awal Asia.
Menurut laporan Bloomberg, kebijakan baru Beijing diumumkan pada Sabtu lalu. Dalam aturan tersebut, pengecer tidak lagi diperbolehkan mengklaim pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian emas dari Shanghai Gold Exchange dan Shanghai Futures Exchange, baik untuk penjualan langsung maupun setelah diolah.
Pukulan Besar untuk Pasar Emas Domestik China
Kebijakan ini menjadi perubahan besar bagi pasar emas domestik China, yang selama ini menjadi penopang utama permintaan global.
Sebelumnya, sebagian besar pelaku industri dapat memanfaatkan pengurangan PPN atas bahan baku emas sebelum menjualnya ke konsumen.
Namun, di bawah aturan baru yang berlaku hingga akhir 2027, insentif tersebut hanya akan diberikan kepada anggota resmi bursa emas Shanghai, termasuk bank besar, kilang pemurnian, dan produsen bersertifikat.
Dari Puncak Rekor ke Jurang Koreksi
Kabar ini datang tak lama setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD 4.380 per troy ounce pada awal Oktober 2025. Kala itu, harga melonjak karena euforia pembelian ritel global dan ketegangan geopolitik.
Namun kini, dua pekan berturut-turut pasar mencatat koreksi tajam, menandai fase baru dalam reli panjang harga emas tahun ini.
Meski begitu, secara tahunan, emas masih mencatat kenaikan lebih dari 50%, didorong oleh permintaan tinggi dari bank sentral dan investor global yang mencari aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Analis: “Sentimen Pasar Akan Terguncang”
Direktur Riset BullionVault, Adrian Ash, mengatakan kebijakan China ini bisa memperlemah optimisme pasar emas secara global.







