KAIRO, KALIMANTANLIVE.COM — Dunia arkeologi dan pariwisata internasional gempar! Mesir akhirnya meresmikan Grand Egyptian Museum (GEM) — proyek budaya raksasa bernilai 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 19 triliun — yang berdiri megah di Giza, hanya beberapa langkah dari Piramida Agung Khufu, salah satu keajaiban dunia kuno.
Museum ini disebut sebagai museum arkeologi terbesar di dunia yang didedikasikan untuk satu peradaban tunggal, yakni peradaban Mesir Kuno. Lebih dari 100.000 artefak dipamerkan, menggambarkan perjalanan panjang Mesir dari zaman prasejarah hingga era Romawi.
#baca juga:BREAKING NEWS! BMKG Ingatkan Hujan Guyur Kalsel & Kalteng Hari Ini, Warga Diminta Waspada Petir
#baca juga:Cemburu Buta Berujung Maut! Pria Lampung Tega Habisi Mantan Istri dengan Tusukan Berulang
#baca juga:Puncak Musim Hujan, BMKG Luncurkan Operasi Modifikasi Cuaca Demi Cegah Banjir Besar!
Kemegahan di Bawah Bayang Piramida
Berdiri di atas lahan seluas 500.000 meter persegi — setara 70 lapangan sepak bola — GEM memadukan arsitektur modern dan sentuhan warisan kuno Mesir.
Fasad kaca berbentuk segitiga terinspirasi dari piramida, sementara interiornya dihiasi hieroglif dan batu alabaster tembus cahaya.
Begitu melangkah ke dalam, pengunjung langsung disambut patung raksasa Firaun Ramses II setinggi 11 meter dan obelisk menggantung berusia lebih dari 3.000 tahun. Sebuah tangga besar enam lantai yang dipenuhi patung raja dan ratu kuno membawa pengunjung ke galeri utama — dengan pemandangan spektakuler ke Piramida Giza.
Koleksi Lengkap Tutankhamun: “Mahakarya Sejati Mesir Kuno”
Daya tarik utama GEM adalah pameran lengkap peninggalan Raja Tutankhamun, raja muda yang legendaris dari Lembah Para Raja, Luxor.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, lebih dari 5.000 artefak dari makam Tutankhamun dipamerkan secara utuh di satu ruangan — mulai dari topeng emas ikonik, tahta kerajaan, kereta perang, hingga perhiasan dan perlengkapan pemakaman.
“Koleksi Tutankhamun adalah mahakarya dari museum ini,” ujar Zahi Hawass, arkeolog terkemuka Mesir sekaligus mantan Menteri Purbakala.
Sementara Tarek Tawfik, Presiden Asosiasi Ahli Mesir Kuno dan mantan kepala GEM, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang agar pengunjung bisa merasakan sensasi seperti Howard Carter saat menemukan makam Tutankhamun pada 1922.
“Tidak ada lagi yang tersisa di penyimpanan atau di museum lain. Inilah pengalaman yang lengkap,” ujarnya.
Kebangkitan Pariwisata Mesir
Pemerintah Mesir berharap GEM menjadi titik balik bagi kebangkitan pariwisata nasional yang sempat terpukul akibat gejolak politik, pandemi COVID-19, dan dampak perang di Ukraina.
Targetnya ambisius — melipatgandakan jumlah wisatawan dari 15,7 juta (2024) menjadi 30 juta pada 2032. Museum ini diperkirakan dapat menarik 8 juta pengunjung per tahun, menjadi motor penggerak baru ekonomi budaya Mesir.
“Kami berharap Grand Egyptian Museum menandai era keemasan baru bagi kajian Mesir Kuno dan pariwisata budaya,” tutur Ahmed Seddik, pemandu wisata sekaligus calon ahli Mesir Kuno di Giza.







