BANJARMASIN, Kalimantanlive.com – Faktor ekonomi dan sosial masih menjadi penyebab dominan tingginya kasus kekerasan terhadap anak di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Hal ini diungkap Lurah Murung Raya, Sugeng, usai mengikuti Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak se-Kota Banjarmasin di Hotel Roditha, Selasa (4/11/2025).
BACA JUGA: Sepanjang 2025, Pemko Banjarmasin Salurkan Rp 975 Juta untuk 325 KK Korban Kebakaran
“Banyak anak putus sekolah lalu mulai menghirup lem. Dampaknya bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Sugeng menyebut pelatihan ini sangat membantu pemerintah kelurahan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini serta penanganan kasus yang masih cukup tinggi di wilayah selatan.
Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj. Ananda, yang hadir mewakili Wali Kota HM Yamin, menegaskan bahwa data kekerasan bukan sekadar angka, melainkan gambaran kondisi sosial yang harus diubah bersama.
“Pada 2024 ada 180 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hingga September 2025 sudah 139 korban. Peningkatan laporan menunjukkan masyarakat mulai berani bersuara dan tidak lagi menormalisasi kekerasan,” kata Ananda.
Ia menilai kesadaran masyarakat tersebut tak lepas dari kolaborasi pemerintah dengan Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA) serta Relawan SAPA.







