Data BPS 2025: Pengangguran Turun 4.000 Orang, Tapi 47 Juta Warga Masih Bekerja Tak Penuh!

KALIMANTANLIVE.COM – Kabar baik datang dari dunia ketenagakerjaan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran nasional terus menurun hingga 7,46 juta orang atau 4,85 persen dari total angkatan kerja pada Agustus 2025.

Namun di balik penurunan itu, terselip tantangan baru: lonjakan pekerja paruh waktu yang mencapai 1,66 juta orang dalam setahun terakhir.

#baca juga:KPK Bongkar Skandal “Jatah Preman” Proyek Rp 177,4 Miliar, Gubernur Riau Sudah Kantongi Rp 4,05 Miliar

#baca juga:BREAKING WHEATHER! Cuaca Kalsel-Kalteng Hari Ini Dikepung Badai Petir, BMKG Ingatkan Warga Siaga!

#baca juga:WOW! Ternyata Ada “Brankas Kiamat” di Kutub Utara yang Simpan Jutaan Benih Pangan Dunia, Jadi Harapan Umat Manusia

#baca juga:Hasil Lengkap Liga Champions 2025-2026: Manchester City Menggila, Barcelona Ditahan Brugge dalam Drama 6 Gol!

Pengangguran Turun, Tapi Tak Semua Bekerja Penuh

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa penurunan pengangguran terjadi di semua kelompok — baik laki-laki maupun perempuan, wilayah kota maupun desa.

“Jumlah pengangguran turun 4.092 orang dibandingkan Agustus 2024. Proporsi pekerja penuh meningkat, sementara tingkat setengah pengangguran menurun,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik, Rabu (5/11/2025).

Meski demikian, data BPS menunjukkan kualitas pekerjaan masih menjadi masalah utama. Dari 146,54 juta orang yang bekerja, sebanyak 47 juta orang belum bekerja penuh, terdiri atas:

Pekerja paruh waktu: 36,29 juta orang

Setengah pengangguran: 11,60 juta orang

Sementara itu, pekerja penuh hanya mencapai 98,65 juta orang, naik 200 ribu dari tahun lalu.

Pekerja Paruh Waktu Naik 1,66 Juta Orang

Peningkatan paling mencolok justru terjadi di kelompok pekerja paruh waktu — mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu.

Kondisi ini menandakan banyak tenaga kerja yang belum mendapatkan pekerjaan layak atau pendapatan tetap, meski sudah tercatat “bekerja”.

Ekonom menilai tren ini menunjukkan adanya pergeseran ke pekerjaan informal, termasuk sektor jasa dan ekonomi digital, yang belum memberikan jaminan kesejahteraan stabil.

TPAK Turun, Tapi Partisipasi Perempuan Naik

BPS juga mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) turun tipis dari 70,63% (2024) menjadi 70,59% (2025).
Namun menariknya, partisipasi perempuan meningkat, meski masih jauh di bawah laki-laki.