KALIMANTANLIVE.COM – Dunia teknologi kembali heboh setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, memprediksi bahwa China akan mengalahkan Amerika Serikat (AS) dalam perlombaan membangun kecerdasan buatan (AI).
Dalam wawancara eksklusif bersama Financial Times di sela acara Future of AI Summit, Rabu (5/11/2025), pendiri raksasa semikonduktor itu menilai China melaju lebih cepat karena memiliki biaya energi rendah, dukungan kuat dari pemerintah, dan regulasi yang lebih longgar dibandingkan negara-negara Barat.
# Baca Juga :KALIMANTAN TERNYATA TAK AMAN DARI GEMPA! BMKG Beberkan Jejak Sesar Aktif yang Masih “Hidup” di Bumi Borneo
# Baca Juga :PEP GUARDIOLA CETAK SEJARAH! Laga ke-1.000 Sang Maestro Saat Manchester City Tantang Liverpool di Etihad
# Baca Juga :Terungkap Mayoritas Korban Ledakan di SMAN 72 Jakarta Pelajar di Bawah 18 Tahun
# Baca Juga :Bupati Ponorogo Terjaring OTT KPK, Sekda, Dirut RSUD, dan Adik Bupati Ikut Dicokok!
“China akan memenangkan perlombaan AI,” tegas Huang tanpa ragu.
China Ngebut, AS Terjebak Regulasi
Huang menilai bahwa iklim inovasi di Barat semakin lamban akibat sikap “terlalu sinis dan birokratis”.
“Kita butuh lebih banyak optimisme, bukan skeptisisme,” ujarnya tajam.
Sementara itu, di Tiongkok, pemerintah justru mendorong penuh pertumbuhan ekosistem AI, terutama melalui subsidi energi besar-besaran bagi pusat data raksasa seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent.
Menurut laporan Financial Times, beberapa daerah bahkan memberikan diskon listrik untuk mendorong penggunaan chip lokal buatan Huawei dan Cambricon, meski chip tersebut dikenal lebih boros energi dibandingkan produk Nvidia.
“Di China, tenaga listrik hampir gratis,” ungkap Huang.
Trump Langsung Pasang Tembok Teknologi
Pernyataan Huang muncul di tengah ketegangan politik antara Washington dan Beijing akibat pembatasan ekspor chip canggih Nvidia ke China.
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa chip AI paling mutakhir hanya boleh digunakan di Amerika Serikat.
“Chip paling canggih hanya untuk Amerika. China boleh bekerja sama, tapi tidak untuk yang kelas atas,” kata Trump dalam wawancara dengan CBS.
Trump bahkan mengusulkan agar Nvidia dan AMD membayar 15 persen dari pendapatan penjualan chip AI di China kepada pemerintah AS sebagai bentuk kompensasi, meski aturan resminya belum diterbitkan.
AI China Hanya ‘Selangkah’ di Belakang AS
Meski kebijakan AS semakin ketat, Huang mengingatkan bahwa selisih kemampuan AI antara China dan Amerika kini “hanya seujung kuku.”
“China hanya terpaut nanodetik dari Amerika dalam AI,” ujar Huang.
Ia menilai bahwa jika AS terus menutup diri, negara itu bisa kehilangan keunggulan global.
“Untuk menang, Amerika harus berlari lebih cepat, bukan membangun tembok yang membatasi kolaborasi,” tambahnya.







