JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Setelah ramai rencana pelarangan game Roblox, kini pemerintah membuka kemungkinan membatasi permainan daring populer PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG). Langkah ini muncul setelah insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta pada Jumat (12/11/2025) yang diduga dipicu oleh pengaruh konten kekerasan dari game online.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto tengah mempertimbangkan pembatasan terhadap game yang menampilkan unsur kekerasan, terutama yang mudah diakses oleh anak-anak.
# Baca Juga :Prabowo Tetapkan 10 Pahlawan Nasional 2025: Ada Gus Dur hingga Soeharto, Ini Daftar Lengkap Jasanya
# Baca Juga :Prabowo Pasang Badan Bela Jokowi: “Dulu Disanjung, Sekarang Dicari-Cari Salahnya!”
# Baca Juga :Prabowo Puji Kualitas KRL Indonesia, Tak Kalah dari Luar Negeri
# Baca Juga :Geger ASN Bidan Diduga Jadi Korban Pungli! Prabowo Turun Tangan, Bobby Nasution Perintahkan Ujian Diulang
“Itu kan di situ (PUBG), mungkin kita perlu memikirkan pembatasan. Jenis-jenis senjata di game itu sangat mudah dipelajari, bahkan bisa berdampak negatif kalau tidak diawasi,” ujar Prasetyo di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, dari sisi psikologis, anak-anak yang terlalu sering bermain game semacam PUBG dapat menganggap kekerasan sebagai hal wajar.
Prabowo Ajak Hidupkan Kembali Kepedulian Sosial
Selain menyoroti dampak game online, Presiden Prabowo juga menyerukan pentingnya menghidupkan kembali semangat sosial dan gotong royong di masyarakat. Ia mendorong agar kegiatan karang taruna dan Pramuka diaktifkan kembali untuk memperkuat karakter generasi muda.
“Beliau membahas agar karang taruna dan Pramuka harus aktif kembali,” kata Prasetyo.
Prabowo juga mengingatkan sekolah-sekolah untuk lebih waspada terhadap aktivitas mencurigakan serta mencari solusi atas berbagai masalah di dunia pendidikan.
Jejak Pelarangan Roblox Jadi Peringatan
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, juga menyoroti game Roblox karena dianggap mengandung banyak unsur kekerasan.
Dalam kunjungannya ke SDN Cideng 02, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2025), ia mengimbau para siswa agar tidak terlalu lama bermain ponsel dan menghindari game yang menormalisasi kekerasan.
“Game itu banyak mengandung kekerasan. Anak-anak kadang tidak memahami bahwa yang mereka lihat itu tidak nyata,” ujar Mu’ti.
“Hal seperti itu bisa memicu tindakan kekerasan di dunia nyata,” tambahnya.







