BUMN Dipangkas Besar-Besaran: Dari 1.000 Perusahaan Dipertahankan 200! Danantara Ungkap Alasan Mendasarnya

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Gelombang reformasi besar tengah mengguncang dunia BUMN. Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi mengumumkan rencana pemangkasan masif: dari lebih dari 1.000 BUMN direct dan indirect, hanya sekitar 200 yang akan dipertahankan. Sisanya siap dilebur, dikonsolidasikan, atau dihapuskan total.

Managing Director Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa hampir separuh dari seluruh BUMN saat ini mengalami kerugian. Penyebab utamanya: model bisnis yang tak lagi relevan dan pola pengelolaan yang dinilai tidak efisien.

# Baca Juga :Wamenkes Luruskan Isu Panas BPJS Kesehatan: Ingat Bukan Hanya untuk Warga Miskin!

# Baca Juga :Terkuak Ladang Ganja Raksasa 51,75 Hektare di Aceh: 26 Titik Penanaman Dibongkar Bareskrim Polri!

# Baca Juga :PLAVE Pecahkan Rekor Gila: Album Baru ‘PLBBUU’ Tembus 1 Juta Kopi dalam Sepekan!

# Baca Juga :Pesawat Menteri Tambang Kongo Terbakar Saat Mendarat: Delegasi Panik Berloncatan Selamatkan Diri di Bandara Kolwezi!

“Hampir setengah dari seribu lebih BUMN kita itu rugi. Banyak yang dibuat dalam konteks berbeda dari kebutuhan hari ini,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).

Sebagai contoh, ia menyoroti sektor telekomunikasi yang memiliki banyak pekerjaan terpecah ke 4–5 perusahaan sekaligus. Tumpang-tindih fungsi inilah yang membuat margin keuntungan terus tergerus.

“Margin hilang di situ. Jadi hal-hal seperti itu harus kita eliminasi,” tegasnya.

Tak hanya itu, Febriany mengungkap fakta mengejutkan: banyak BUMN justru saling bersaing secara tidak sehat—bahkan sampai “saling mematikan”—dengan menurunkan harga secara ekstrem hingga margin keuntungan nyaris atau bahkan benar-benar nol.

“Kita saling sikut, turunin harga sampai margin-nya nol, tetap diturunin lagi,” lanjutnya.

Untuk mengakhiri kondisi ini, Danantara menyiapkan langkah restrukturisasi menyeluruh. Konsolidasi lintas sektor akan dilakukan agar Indonesia hanya mempertahankan perusahaan yang benar-benar relevan, sehat secara finansial, dan memberikan nilai tambah maksimal.