WASHINGTON DC, KALIMANTANLIVE.COM – Ketegangan yang sempat memanas antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, berubah drastis menjadi suasana akrab ketika keduanya bertemu di Oval Office, Jumat (21/11/2025). Pertemuan itu berlangsung hangat—kontras dengan saling kecam yang sebelumnya menghiasi ruang publik.
Dalam pertemuan tatap muka tersebut, Trump dan Mamdani bahkan saling bertukar pujian. Keduanya sepakat menjalin kerja sama untuk mengatasi meningkatnya isu kriminalitas dan persoalan keterjangkauan hidup di kota terbesar AS itu.
# Baca Juga :Korea Selatan Terapkan Aturan Baru: Riwayat Bullying Jadi Penentu Lolos-Tidaknya Masuk Universitas Mulai 2026
# Baca Juga :DERBI JATIM MEMANAS! Arema FC Tantang Kutukan GBT, Persebaya Siapkan Ledakan Balasan
# Baca Juga :Pasar Kripto Terpukul! Bitcoin Rontok Parah, Kapitalisasi Pasar Amblas di Bawah USD 3 Triliun
# Baca Juga :Tradisi Pamer Harta Sitaan Kian Menggila! KPK Tampilkan Rp 300 Miliar Cash, Pernah Jadi “Showroom” Mobil Mewah!
Trump, presiden dari Partai Republik berusia 79 tahun, selama ini dikenal kerap melontarkan kritik keras terhadap Mamdani—seorang demokratik sosialis berusia 34 tahun—bahkan melabelinya “komunis” dan sederet julukan pedas lainnya. Namun suasana berubah total ketika Mamdani berdiri di samping meja kerja Trump dan sang presiden menepuk lengannya dengan ramah.
“Kami sepakat lebih banyak hal daripada yang saya kira. Kami memiliki satu kesamaan: kami ingin kota yang kita cintai ini berjalan dengan baik,” ujar Trump.
Ia juga menegaskan siap mengesampingkan perbedaan politik. “Semakin baik dia bekerja, semakin senang saya.”
Mamdani pun memberi respons positif. Ia menghargai bahwa percakapan mereka tidak berkutat pada perbedaan politik, tetapi berfokus pada tujuan bersama.
“Yang saya hargai dari presiden adalah pertemuan ini tak terjebak dalam perbedaan—yang jumlahnya banyak—tetapi pada pelayanan bagi warga New York,” ujarnya.
Dari Ancaman Pendanaan Hingga Saling Label ‘Radikal’: Jejak Ketegangan Keduanya
Sebelum Mamdani memastikan kemenangan dalam pemilu awal bulan ini, Trump pernah mengancam akan mencabut pendanaan federal untuk New York City. Mamdani, di sisi lain, kerap mengkritik kebijakan Trump, termasuk soal penguatan penegakan imigrasi di kota dengan populasi imigran yang tinggi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump bahkan sempat menjuluki Mamdani sebagai “radikal kiri”, “komunis”, hingga “pembenci Yahudi” tanpa dasar. Mamdani sendiri dikenal sebagai tokoh sosialisme demokratis ala negara-negara Nordik.
Meski kritis terhadap Israel, ia justru didukung politisi Yahudi dan menunjuk sejumlah staf Yahudi dalam pemerintahan barunya, termasuk Komisaris Kepolisian NYC Jessica Tisch. Ia pun berulang kali mengecam antisemitisme.







