JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Gejolak besar kembali mengguncang dunia aset digital. Harga Bitcoin terjun bebas dan menyeret seluruh pasar kripto hingga merosot di bawah batas psikologis 3 triliun dollar AS, menandai bulan terburuk sejak kehancuran industri kripto pada 2022. Sepanjang November, nilai Bitcoin sudah menguap hampir 25 persen.
Penurunan tajam ini sempat membawa Bitcoin ambles 7,6 persen ke level 80.553 dollar AS, sebelum akhirnya berbalik melemah ringan pada Jumat. Ether tak kalah terpukul, merosot 8,9 persen hingga jatuh ke bawah 2.700 dollar AS, diikuti deretan token lain dengan koreksi serupa.
# Baca Juga :Harga Emas Antam Anjlok di Akhir Pekan: Turun Rp 7.000 per Gram, Investor Waspada!
# Baca Juga :DERBI JATIM! Link Live Streaming Persebaya vs Arema FC Pekan ke-13 Super League 2025-2026
# Baca Juga :Korea Selatan Terapkan Aturan Baru: Riwayat Bullying Jadi Penentu Lolos-Tidaknya Masuk Universitas Mulai 2026
# Baca Juga :DERBI JATIM MEMANAS! Arema FC Tantang Kutukan GBT, Persebaya Siapkan Ledakan Balasan
Data CoinGecko mencatat, total kapitalisasi pasar kripto kini resmi berada di bawah 3 triliun dollar AS, pertama kali sejak April lalu. Bloomberg menegaskan, tekanan kali ini menjadi yang terdalam sejak drama kejatuhan TerraUSD dan gelombang likuidasi yang menjatuhkan FTX pada 2022.
Meskipun pemerintahan Presiden AS Donald Trump dianggap pro-kripto dan adopsi institusional meningkat, Bitcoin masih tertekan—jatuh lebih dari 30 persen sejak rekor tertinggi pada awal Oktober.
Gelombang Likuidasi Brutal Menghapus Nilai Triliunan
Koreksi besar dipicu oleh likuidasi masif pada 10 Oktober yang menghapus 19 miliar dollar AS posisi ber-leverage serta menguapkan sekitar 1,5 triliun dollar AS nilai pasar kripto.
“Kombinasi likuidasi paksa dan tekanan dari penjualan ETF membuat pasar menjadi sangat rapuh,” ungkap Chris Newhouse, Director of Research di Ergonia.
Dalam 24 jam terakhir, CoinGlass mencatat tambahan likuidasi sebesar 2 miliar dollar AS, menambah kepanikan pelaku pasar.
Sentimen Global Memburuk
Dari sisi eksternal, pasar saham AS ikut memberi tekanan. Setelah sempat naik karena optimisme kecerdasan buatan, bursa berbalik melemah akibat kekhawatiran valuasi dan ketidakpastian keputusan suku bunga The Federal Reserve pada Desember.
“Sentimen pasar berada di titik buruk. Ada pihak yang terpaksa menjual aset, tapi skala tekanan ini belum jelas,” ujar Pratik Kala, Portfolio Manager Apollo Crypto.
Dompet Legendaris Ikut Melepas Bitcoin
Menambah kehebohan, dompet kripto lama bernama “Owen Gunden”, yang menyimpan Bitcoin sejak 2011, mulai menjual asetnya sejak akhir Oktober. Total penjualan mencapai 1,3 miliar dollar AS, dengan transaksi terakhir dilakukan pada Kamis, menurut Arkham Intelligence.
Vetle Lunde dari K33 menyebut fenomena ini mencerminkan tren yang lebih luas: pemilik awal mulai melepas Bitcoin dalam jumlah besar.
Indeks Ketakutan Kripto Memuncak
Indikator sentimen pasar yang mengukur volatilitas, momentum, dan permintaan kini jatuh ke titik terendah sejak 2022. Indeks Coinglass menunjukkan level “ketakutan ekstrem”. Tahun lalu, indeks ini bahkan sempat mencapai 94 usai kemenangan Donald Trump di pemilu AS.
Institusi pun mulai menahan diri. Sebanyak 12 ETF Bitcoin di AS melaporkan arus keluar bersih 903 juta dollar AS, penarikan terbesar kedua sejak peluncuran awal 2024. Sementara itu, open interest futures perpetual anjlok 35 persen dari puncaknya pada Oktober.










