Di sisi lain, segmen buy now pay later (BNPL) mencatat pertumbuhan pesat sebesar 25,49 persen menjadi Rp24,86 triliun, meski kontribusinya terhadap total kredit perbankan masih kecil dan NPL tetap terjaga di 2,61 persen.
Secara keseluruhan, kredit perbankan pada September 2025 tumbuh 7,70 persen yoy, naik dari 7,56 persen pada bulan sebelumnya, dengan total outstanding mencapai Rp8.162,8 triliun.
BACA JUGA: OJK RESAH: Bisnis Gadai Dikhawatirkan Jadi Sarang Barang Ilegal dan Pencucian Uang!
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 15,18 persen yoy, disusul kredit konsumsi, sementara kredit modal kerja naik 3,37 persen yoy.
OJK juga mencatat bahwa penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) telah mulai direspons perbankan melalui penurunan suku bunga kredit dan dana pihak ketiga (DPK).
Rerata bunga kredit investasi turun 50 basis poin menjadi 8,25 persen, sementara bunga kredit modal kerja turun 41 basis poin menjadi 8,46 persen pada September 2025.
Penurunan BI-Rate dinilai masih berpotensi diteruskan ke suku bunga kredit pada 2025, terutama jika suku bunga global ikut menurun.
Dengan ekspektasi pelonggaran global pada triwulan IV 2025, OJK menilai masih terdapat ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, meski implementasinya akan disesuaikan dengan strategi masing-masing bank dan struktur biaya dana (cost of fund/CoF).
Sumber: Antaranews.com







