KALIMANTANLIVE.COM – Kecelakaan jet tempur ringan Tejas Mark 1A milik India saat melakukan manuver aerobatik rendah di Dubai Air Show menjadi pukulan besar bagi ambisi dirgantara India. Insiden tragis yang menewaskan seorang pilot senior Angkatan Udara India (IAF) pada Jumat (21/11) itu terjadi di hadapan delegasi industri pertahanan dunia, memicu sorotan global serta kekhawatiran soal reputasi dan daya saing pesawat buatan India.
IAF segera membentuk tim penyelidikan untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat, apakah akibat kegagalan mekanis, kesalahan pilot, atau faktor lain. Ini bukan kali pertama Tejas mengalami kecelakaan—pada Maret 2024, jet serupa jatuh di Rajasthan saat latihan, meski pilotnya selamat setelah kursi pelontar berfungsi.
# Baca Juga :VIRAL! Penambang Ilegal Tembak Anaconda Raksasa di Amazon, Warga Brasil & Aktivis Lingkungan Internasional Murka
# Baca Juga :WASPADA! Dua Tanda di Wajah Ini Bisa Jadi Isyarat Kolesterol Tinggi, Kenali Sebelum Terlambat
# Baca Juga :Gudang Berisi Kembang Api di London Meledak dan Hangus Terbakar, Ratusan Ledakan Guncang Kawasan Kota
# Baca Juga :HEBOH! Jennifer Lopez Panen Sorotan di Pernikahan Crazy Rich India, Tampil Seksi dan Dikabarkan Dibayar Rp 33 Miliar
Seorang pejabat senior IAF mengatakan kepada DW bahwa meski Tejas tetap lebih unggul dibanding pesawat tua seperti MiG-21, pesawat ini masih tertinggal dari pesawat tempur Cina seperti J-20 dan J-16. Hal ini semakin memperbesar keraguan terhadap kemampuan tempur India di tengah kompetisi kawasan.
Empat Dekade Pengembangan, Tejas Masih Jauh dari Harapan
Tejas Mark 1A adalah pesawat tempur mesin tunggal buatan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) yang dirancang untuk menggantikan armada IAF yang menua. Namun proyek yang berjalan lebih dari 40 tahun ini masih mengalami banyak keterlambatan—baru 38 unit yang masuk dinas hingga kini.
HAL menyebut keterlambatan terjadi akibat lambatnya pasokan mesin GE Aerospace dari AS. Mantan pilot tempur India, Kapten Sandeep Bansal, menegaskan bahwa tantangan terbesar India adalah minimnya kemajuan teknologi mesin dan kemampuan industri pertahanannya.
Pada Juni lalu, Kepala IAF Amar Preet Singh blak-blakan mengkritik lambannya proyek pertahanan negara. Ia menyebut hampir semua proyek tidak pernah selesai tepat waktu—situasi yang makin memperburuk menurunnya kekuatan skuadron IAF yang kini hanya 29 skuadron, jauh dari target 42.
Tekanan Geopolitik: Cina dan Pakistan Terus Melaju
Kekurangan armada tempur terjadi saat India menghadapi tekanan strategis dari Pakistan dan terutama Cina. Dalam bentrokan udara terbaru, Pakistan mengandalkan jet J-10C dan rudal jarak jauh PL-15. Pakistan juga mengumumkan kesepakatan ekspor pesawat JF-17 Thunder Block III ke negara sahabat mereka di Dubai Air Show.
Sementara Cina telah menginduksi pesawat tempur generasi kelima J-20 dan bahkan sedang menguji dua pesawat generasi keenam. Para analis menilai langkah Cina ini semakin menekan India untuk bergerak cepat.
India kini mengembangkan pesawat tempur generasi kelima sendiri, Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA), namun diperkirakan baru siap digunakan paling cepat pada 2035. Para pakar menegaskan perlunya percepatan agar India tidak tertinggal semakin jauh.







