KALIMANTANLIVE.COM – Duka mendalam menyelimuti Hong Kong. Jumlah korban tewas dalam kebakaran dahsyat yang melanda sebuah kompleks apartemen delapan blok di distrik Tai Po terus meningkat. Hingga Jumat (28/11/2025), otoritas mengonfirmasi sedikitnya 83 jiwa melayang, menjadikannya tragedi kebakaran paling mematikan di wilayah tersebut sejak 1948.
Tim penyelamat masih bekerja tanpa henti, menyisir bangunan yang hangus untuk menemukan puluhan penghuni yang masih dinyatakan hilang. Kebakaran ini memicu guncangan besar bagi warga Hong Kong dan memunculkan berbagai pertanyaan mengenai standar keselamatan renovasi gedung.
# Baca Juga :Rumah Dinas Gubernur Bobby Nasution, Kapolda Sumut, dan Pangdam Ikut Terendam, Medan Darurat Banjir!
# Baca Juga :Purbaya Ultimatum Bea Cukai: Diberi Waktu 1 Tahun atau Dibekukan Seperti Era Soeharto!
# Baca Juga :Polytron Fox 350 vs Honda PCX 160: Duel Panas Motor Listrik vs Skutik Premium, Siapa Jawaranya?
Api Baru Terkendali Setelah 24 Jam
Kepala pemadam kebakaran Hong Kong menyebutkan bahwa butuh lebih dari 24 jam untuk mengendalikan api yang terpusat di empat unit dari hampir 2.000 unit hunian dalam kompleks Wang Fuk Court.
Sebanyak 76 orang mengalami luka-luka, termasuk 11 petugas pemadam yang turut berjibaku dalam situasi ekstrem.
Sementara itu, data resmi mengenai jumlah penghuni yang hilang belum diperbarui sejak Kamis pagi. Pada Kamis dini hari, pemimpin Hong Kong John Lee menyebut ada 279 orang belum dapat dihubungi. Sebagian sudah ditemukan, namun angka resmi masih ditunggu.
Dugaan Penyebab: Renovasi, Perancah Bambu, dan Kelalaian Pekerja
Otoritas Hong Kong membuka investigasi besar-besaran. Beberapa faktor yang sedang diperiksa:
Perancah bambu yang mengelilingi bangunan dalam proyek renovasi.
Jaring plastik yang membungkus gedung dan diduga mempercepat penyebaran api.
Pembiaran limbah kemasan busa, yang memicu polisi menangkap tiga orang pekerja.
Investigasi antikorupsi terhadap pihak-pihak terkait proyek renovasi.
Sejumlah pertanyaan muncul: Apakah standar keselamatan dilanggar? Apakah proyek renovasi dilakukan tanpa pengawasan ketat?
Kesaksian Mengerikan: Alarm Tak Berbunyi
Warga mengaku alarm kebakaran tidak aktif saat api mulai menjalar cepat. Mereka harus berlari dari pintu ke pintu untuk memperingatkan tetangga.
“Api menjalar begitu cepat… hanya satu selang air yang digunakan untuk beberapa bangunan,” ujar seorang warga bernama Suen kepada AFP.
Korban Termasuk Petugas Pemadam & Pekerja Migran Indonesia
Dari 83 korban yang telah teridentifikasi:
1 adalah petugas pemadam berusia 37 tahun.
2 korban lainnya adalah pekerja rumah tangga migran asal Indonesia, seperti dilaporkan CNA.
Tragedi ini menjadi kebakaran paling mematikan sejak ledakan 1948 yang menewaskan 135 orang di wilayah tersebut.
Di pusat komunitas, polisi memperlihatkan foto jenazah dan barang pribadi untuk membantu keluarga mencari anggota yang hilang. Banyak keluarga tak mampu menahan tangis.







