KALIMANTANLIVE.COM – Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara memaksa layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) beradaptasi cepat. Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengubah fungsi dapur MBG menjadi dapur umum setelah banyak sekolah penerima manfaat program tersebut terpaksa diliburkan.
“Karena bencana banjir, maka sekolah di wilayah yang terdampak kemudian diliburkan. Karena itu penerima manfaat MBG kemudian dialihkan kepada masyarakat terdampak,” ujar Kepala Kantor Regional BGN Sumatera Utara, KR Agung Kurniawan, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 29 November 2025.
# Baca Juga :Banjir Meluas ke 18 Kabupaten dan Kota di Aceh, 119.988 Jiwa Terdampak, Puluhan Ribu Mengungsi
# Baca Juga :Rumah Dinas Gubernur Bobby Nasution, Kapolda Sumut, dan Pangdam Ikut Terendam, Medan Darurat Banjir!
# Baca Juga :Wali Kota Sibolga Hilang Kontak 3 Hari Usai Banjir-Longsor Mematikan, Akses Komunikasi Terputus Total
Agung menjelaskan bahwa terdapat 48 SPPG di Kota Medan yang saat ini aktif beroperasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55.000 paket makanan telah didistribusikan kepada warga terdampak bencana.
Selain Medan, sejumlah daerah lain juga melakukan distribusi bantuan melalui dapur umum MBG:
Kota Padangsidimpuan: 4 SPPG, 10.000 paket makanan
Kota Tebing Tinggi: 13 SPPG, 45.000 paket makanan
Kabupaten Tapanuli Utara: 5 SPPG, 9.000 paket makanan
Kabupaten Serdang Bedagai: 28 SPPG, 12.000 paket makanan
Kabupaten Langkat: 11 SPPG, 32.000 paket makanan
Kota Sibolga: 3 SPPG, 7.000 paket makanan
Kabupaten Tapanuli Selatan: 3 SPPG, 7.000 paket makanan
Kabupaten Mandailing Natal: 10 SPPG, 13.000 paket makanan
Kabupaten Deli Serdang: 54 SPPG, 100.000 paket makanan
Secara keseluruhan, 179 SPPG di 10 kabupaten/kota wilayah Sumut terdampak banjir telah menyalurkan 290.000 porsi makanan untuk masyarakat.
Agung menyampaikan bahwa seluruh Korwil SPPG dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia turut berada di garis depan membantu warga. Namun ia mengakui, pendistribusian makanan tidak lepas dari tantangan, terutama karena beberapa wilayah banjir mengalami keterbatasan akses bahan baku, listrik, hingga jaringan internet.









