Viral Aksi “Penjarahan” Saat Banjir Sumatera: Psikolog Ungkap Fakta Mengejutkan soal Survival Instinct Korban

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Perdebatan panas soal aksi “penjarahan” kembali mencuat di tengah bencana banjir besar yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Video warga mengambil barang kebutuhan muncul di media sosial dan langsung menuai pro-kontra.

Sebagian warganet menyebut aksi itu terjadi karena distribusi bantuan yang lambat, sementara lainnya tetap menilai tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan. Ada pula yang menduga sebagian pelaku hanya memanfaatkan situasi tanpa benar-benar membutuhkan.

# Baca Juga :Terungkap Identitas Asli Buron Sabu Rp 5 Triliun: “Dewi Astutik” Ternyata Paryatin dari Ponorogo!

# Baca Juga :Toyota Kijang Innova Reborn ‘NEW’ Resmi Meluncur: Tampang Segar, Fitur Naik Kelas, Harga Tetap Menggoda!

# Baca Juga :Detik-Detik Menkeu Purbaya Kesulitan Jajal Moge Patwal Miliaran: “Berat Banget, Mending Motor Bebek!”

# Baca Juga :Ritual Sesat Berujung Maut: Calon LC Batam Disiksa 3 Hari hingga Tewas, Empat Pelaku Ditangkap

Di tengah perdebatan ini, psikolog klinis Maharani Octy Ningsih angkat bicara. Menurutnya, perilaku warga yang mengambil barang-barang kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman saat bencana adalah bentuk survival instinct atau mekanisme bertahan hidup.

Rani menjelaskan bahwa ketika akses terputus, bantuan terlambat datang, dan korban tidak tahu kapan pertolongan tiba, kondisi itu memicu stres dan kecemasan ekstrem. Otak masuk ke mode darurat, membuat seseorang hanya fokus pada upaya mempertahankan hidup.

Ia menegaskan pentingnya membedakan antara aksi yang dilakukan karena terpaksa memenuhi kebutuhan dasar dengan perilaku oportunistik.

Perilaku oportunistik, katanya, biasanya berupa mengambil barang-barang yang tidak terkait keselamatan seperti rokok atau elektronik. Sedangkan dalam situasi bencana, motivasi bertahan hidup biasanya jauh lebih dominan.