KALIMANTANLIVE.COM – Salah satu satelit internet Starlink milik SpaceX dilaporkan mengalami anomali serius di orbit Bumi pada Rabu (17/12/2025). Gangguan teknis tersebut menyebabkan satelit pecah sebagian, kehilangan kendali, dan kini berada dalam kondisi terjun bebas menuju atmosfer Bumi.
Satelit yang sebelumnya mengorbit pada ketinggian sekitar 418 kilometer itu dilaporkan kehilangan kontak komunikasi setelah mengalami kerusakan sistem. SpaceX mengonfirmasi bahwa insiden tersebut turut melepaskan sejumlah objek kecil ke luar angkasa, sehingga menambah potensi sampah antariksa di orbit rendah Bumi.
# Baca Juga :OJK Siapkan 7 POJK dan 11 SEOJK Sektor PVML untuk Terbit pada 2026
# Baca Juga :Harga Perak Cetak Rekor Tertinggi, Lonjak 132 Persen dan Tinggalkan Emas Sepanjang 2025
# Baca Juga :Samsung Rilis Exynos 2600, Chip HP 2nm Pertama di Dunia Siap Guncang Pasar Flagship
Indikasi kuat menyebutkan gangguan terjadi pada sistem penggerak satelit. Dalam keterangan resminya, SpaceX menyampaikan bahwa anomali tersebut memicu kebocoran gas pada tangki propulsi atau venting, yang menyebabkan penurunan ketinggian orbit secara cepat hingga sekitar 4 kilometer dalam waktu singkat.
Akibat kondisi tersebut, satelit mengalami ketidakstabilan dan terguling tanpa kendali. SpaceX kini bekerja sama dengan NASA serta Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (U.S. Space Force) untuk memantau pergerakan satelit dan serpihan yang dihasilkan dari insiden tersebut.
Meski demikian, perusahaan milik Elon Musk itu menegaskan bahwa risiko terhadap keselamatan manusia sangat kecil. SpaceX menyatakan satelit diperkirakan akan memasuki atmosfer Bumi dan hancur sepenuhnya dalam beberapa pekan ke depan.
“Satelit ini sebagian besar masih utuh, namun terguling dan secara bertahap akan memasuki atmosfer Bumi hingga terbakar habis. Lintasannya saat ini berada di bawah Stasiun Luar Angkasa Internasional, sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi ISS maupun awak di dalamnya,” tulis perwakilan Starlink melalui unggahan di media sosial X, dikutip dari Space.com.
Insiden ini menjadi sorotan tajam di tengah semakin padatnya orbit Bumi. Starlink saat ini tercatat sebagai operator konstelasi satelit terbesar di dunia, dengan hampir 9.300 satelit aktif. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 65 persen dari seluruh satelit fungsional yang mengorbit Bumi.
Untuk mengurangi risiko tabrakan, satelit Starlink dibekali sistem navigasi otonom yang mampu melakukan manuver penghindaran secara otomatis. Sepanjang enam bulan pertama 2025 saja, jaringan Starlink dilaporkan telah melakukan sekitar 145.000 manuver penghindaran tabrakan.










