JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kabar penting bagi masyarakat yang berencana membeli hunian. Harga rumah diprediksi akan naik pada 2026, meski kenaikannya disebut masih tergolong moderat. Para analis properti menilai tren ini tak terelakkan seiring tekanan inflasi dan meningkatnya biaya pengembangan.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia, Martin Hutapea, memperkirakan harga rumah tahun depan akan mengalami kenaikan di kisaran 1 hingga 3 persen.
# Baca Juga :Proyek Gila China! Bikin Lubang Tembus Kerak Bumi hingga 10 Kilometer, Ungkap Rahasia Planet
# Baca Juga :Tragis! Mendes Yandri Ungkap 9 Desa di Sumatera–Aceh Hilang Ditelan Banjir, Kini Berubah Jadi Sungai
# Baca Juga :Arsenal Vs Crystal Palace di Carabao Cup! The Eagles Datang ke Emirates Bawa Misi Kebangkitan
# Baca Juga :Panduan Lengkap Daftar Beasiswa PIP 2025! Ini Cara dan Syarat untuk Siswa SD, SMP, hingga SMA
“Ada kenaikan harga rumah, tapi tidak besar. Estimasi kami maksimal sekitar 3 persen,” ujar Martin saat dihubungi, Senin (22/12/2025).
Menurutnya, kenaikan harga dipicu oleh inflasi, yang mendorong naiknya harga tanah dan material bangunan. Selain itu, perbaikan kinerja penjualan membuat sebagian pengembang lebih percaya diri menyesuaikan harga.
Meski demikian, Martin menegaskan pengembang masih akan bersikap sangat hati-hati. Persaingan pasar perumahan pada 2026 diperkirakan tetap ketat, terutama di wilayah Jabodetabek.
“Diperkirakan akan ada sekitar 10–11 ribu unit peluncuran baru di Jabodetabek tahun depan. Dengan persaingan setinggi itu, pengembang tidak bisa sembarangan menaikkan harga,” jelasnya.
Simulasi Kenaikan Harga Rumah 2026
Martin memaparkan gambaran kenaikan harga berdasarkan segmen pasar:
Segmen menengah bawah (Rp300 juta–Rp500 juta, umumnya di pinggiran kota):
Rumah seharga Rp300 juta berpotensi naik sekitar Rp3–9 juta.
Segmen menengah (Rp500 juta–Rp2 miliar):
Rumah seharga Rp1,5 miliar diperkirakan naik Rp15–45 juta.
Segmen menengah atas (Rp2–Rp5 miliar):
Rumah seharga Rp3 miliar bisa mengalami kenaikan hingga Rp90 juta.
Meski ada kenaikan, daya beli masyarakat dinilai masih relatif aman. Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai tetap menjadi penopang utama bagi calon pembeli.
Konsultan Properti Sepakat, Tapi Tak Drastis
Pandangan senada disampaikan konsultan properti Anton Siregar. Ia memperkirakan harga rumah tetap naik pada 2026, dengan potensi pertumbuhan hingga 5 persen.
“Pengembang hampir pasti akan menaikkan harga, terutama karena stok lahan semakin menipis dan harga tanah terus naik setiap tahun,” ujarnya.
Namun, Anton menilai kenaikan tersebut akan lebih terasa di segmen menengah ke atas, yang pembelinya memiliki daya beli lebih kuat. Untuk segmen menengah, pengembang cenderung menahan kenaikan karena mempertimbangkan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.







