KALIMANTANLIVE.COM – Keluhan nyeri pinggang kerap membuat banyak orang panik dan langsung mengaitkannya dengan saraf kejepit yang identik dengan tindakan operasi. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar dan justru sering menimbulkan ketakutan berlebihan pada pasien.
Dokter bedah saraf RS Kemenkes Surabaya, dr. Asadullah, Sp.BS, menegaskan bahwa Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit tidak selalu harus ditangani dengan operasi.
# Baca Juga :DRAMATIS! Arsenal Singkirkan Crystal Palace Lewat Adu Penalti 8-7, Arteta: Itu Sulit Diterima
# Baca Juga :MELEDAK! Harga Pasaran Jay Idzes Tembus Rp173 Miliar, Rizky Ridho Resmi Pecahkan Rekor Pemain Lokal Termahal
# Baca Juga :Puasa Ramadhan 2026 Diprediksi Jatuh 17 Februari, Kalo Hitung Mundur Berarti Tinggal 55 Hari Lagi
# Baca Juga :GEMPAR! Spotify Dibajak Massal, Metadata 256 Juta Lagu dan Klaim 86 Juta Audio Disebar
“Meski saya dokter bedah saraf, tidak semua kasus HNP harus dioperasi. Kalaupun diperlukan tindakan bedah, kami mengupayakan prosedur minimal invasif dengan sayatan kecil dan peralatan yang memadai, sesuai kebutuhan pasien,” jelas dr. Asadullah dalam kegiatan Healthtalk Update Management Spine di RS Kemenkes Surabaya, Senin (22/12/2025).
Ia menjelaskan, perubahan pada bantalan tulang belakang merupakan bagian dari proses penuaan alami. Bahkan, pada usia di atas 65 tahun, hampir semua orang mengalami HNP dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
“Sebagian besar hanya merasakan pegal atau nyeri ringan yang datang dan pergi. Tidak semuanya sampai menyebabkan gangguan berjalan atau kelumpuhan,” ungkapnya.
Menurut dr. Asadullah, setiap kasus saraf kejepit memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan. Oleh karena itu, pendekatan medis dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan terapi non-operatif.
Beberapa terapi konservatif yang umum dilakukan antara lain fisioterapi untuk memperkuat otot punggung, pemberian obat pereda nyeri dan antiinflamasi, hingga relaksan otot. Dalam kondisi tertentu, terapi tambahan seperti injeksi, pijat medis, akupunktur, hingga manipulasi spinal juga dapat menjadi pilihan.
“Tindakan operasi baru dipertimbangkan jika terapi konservatif tidak memberikan perbaikan, atau muncul kondisi darurat,” tegasnya.







