KALIMANTAN TENGAH, BARITO UTARA, MUARA TEWEH – Kisruh terkait areal Jetty PT. BIMA di Desa Bintang Ninggi II yang sebelumnya sempat tegang berubah teduh dan justru menjadi ikatan persaudaraan Dayak setelah dikunjungi tokoh Dayak Kabupaten Barito Utara Suria Baya beserta tokoh tokoh Dayak lainnya, Selasa (23/12/2025).
Sebelumnya seperti banyak diberitakan, sempat terjadi kisruh saat diadakannya dialog alot antara Satahan Awingnu yang mempermasalahkan tanah di areal Jetty dengan pihak perusahaan PT. BIMA. Saat dialog tersebut, warga Desa Bintang Ninggi II yang bekerja mooring dan merasa mata pencahariannya terganggu menghentikan saja pemortalan yang dilakukan Awingnu dan menolaknya.
Dari pengakuan warga yang ditemui wartawan media ini, kemarin (22/12), mereka sebenarnya hanya merasa terganggu dengan pemortalan pada waktu itu, karena hidup mereka benar – benar bergantung dari pekerjaan tersebut. Dari pantauan di tenda yang mereka dirikan untuk berjaga pada waktu itu, sangat terlihat suatu kesederhanaan hidup mereka.
“Kilau kueh iki bagawi yo mang, te beh gawian ulun ji jida sakulah tinggi tuh, mang ai. Jahawen andau jadi Iki jida kawa bagawi yu mang,” keluh salah seorang warga. Artinya, “Bagaimana kami bekerja om, hanya itu pekerjaan saya yang tidak sekolah tinggi ini om. Enam hari sudah saya tidak bisa bekerja om.”
Persoalan terkait dermaga atau pelabuhan Jetty hingga keluhan warga tadi sampai kepada tokoh Dayak Barito Utara Suria Baya, maka bersama beberapa ormas besar Dayak di Kalimantan seperti Ketua II Dewan Adat Dayak (DAD) Barito Utara, Hison, Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (BATAMAD) yang diketuai Setahan Awingnu sendiri, GERDAYAK dan GPD Alur Barito, ia mendatangi areal PT. BIMA Desa Bintang Ninggi II, siang (23/12/2025).
Dalam pertemuan di sebuah tenda tersebut yang turut diikuti oleh Suria Baya, dilakukan dialog kembali antara pihak perusahaan, Setahan Awingnu dan warga, namun kali ini berbeda dari sebelumnya yang bersitegang. Pembicaraan masing-masing pihak tampak sangat dalam persahabatan dan semuanya satu pengakuan sebagai saudara sesama Dayak.
“Itah tuh kan beken uluh,” atau “kita ini kan bukan orang,” kata warga dan anggota ormas yang hadir seraya saling tersenyum.
Pada waktu itu sempat ditunjukan oleh Awingnu beberapa dokumen yang menurutnya sebagai bukti kepemilikan tanah tempat pelabuhan (Jetty) tersebut. Hal tersebut untuk menepis keraguan akan adanya bukti yang ia miliki.
Diluar persoalan tadi, Suria Baya yang posisinya sebagai penengah dalam polemik ini meminta satu permintaan kepada semuanya, yaitu persatuan dan soliditas sesama orang Dayak Barito Utara demi terjaganya kekompakan Dayak dan kondusifitas.
“Jujur saya tidak punya kepentingan disini, maka saya ingatkan tidak boleh ada satu pun warga Dayak yang menjadi korban gara-gara polemik ini, yang saya pikirkan adalah hak orang Dayak dan persatuan warga masyarakat Dayak dalam masalah ini,” ujar tokoh Dayak paling berpengaruh tersebut.
Kepada pihak perusahaan bahkan ia menegaskan, apabila sampai ada warga Dayak dari kedua belah pihak yang jadi korban karena persoalan ini, maka perusahaan yang akan dipermasalahkannya. Hal ini ia lakukan untuk mengantisipasi agar warga masyarakat bawah tidak menjadi korban pihak “atas”.
Suria Baya dalam pertemuan ini justru dielu-elukan oleh warga Bintang Ninggi II termasuk ibu-ibu yang bekerja mooring di pelabuhan tadi dan mengaku gembira dengan kehadiran Suria Baya yang selama ini hanya diketahuinya melalui berita atau kabar.
“Hidup amangkuh Suria Baya!” teriak warga dan emak-emak.
Suria Baya juga menawarkan mengganti kerugian warga yang tidak dapat bekerja dengan uang pribadinya sendiri secara ikhlas. Ia meminta agar dirinci berapa biaya yang diperlukan warga, dengan syarat bantuannya benar-benar sampai ke yang membutuhkan.







