Fenomena Mobil Bekas 0 Km Menggila di China, Ekspor Melonjak Drastis hingga Ratusan Ribu Unit

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Praktik penjualan mobil bekas nol kilometer kian marak di China dan kini menjadi fenomena serius di industri otomotif global. Tak hanya beredar di pasar domestik, kendaraan yang sejatinya masih baru ini juga membanjiri pasar ekspor, dengan lonjakan volume yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan laporan Carnewschina, pelaku industri memperkirakan transaksi mobil bekas 0 km di pasar domestik China bisa mencapai sekitar 1 juta unit sepanjang 2024. Angka tersebut setara dengan 5 persen dari total pasar mobil bekas nasional, sebuah porsi yang terbilang besar untuk kategori kendaraan yang sebenarnya belum pernah digunakan.

# Baca Juga :BREAKING CUACA! Natal Berpotensi Diguyur Hujan Petir, Kalsel Waspada Sore Hari – Kalteng Dominan Berawan

# Baca Juga :HARGA MELONJAK GILA! Jay Idzes Tembus 5 Bek Tengah Termahal Asia, Nilainya Nyaris Rp200 Miliar

# Baca Juga :VIRAL & BIKIN MIRIS! Tylor Chase Bongkar Kisah Hidupnya: Dari Bintang Nickelodeon Kini Hidup di Jalanan

# Baca Juga :MERAH PUTIH DILECEHKAN! Publik Indonesia Menanti Langkah Tegas Inggris Usai Aksi Provokatif Bonnie Blue

Namun, ekspor justru menjadi tujuan utama kendaraan jenis ini. Data menunjukkan ekspor mobil bekas dari China melonjak tajam, dari hanya 15.000 unit pada 2021, meningkat drastis menjadi 436.000 unit pada 2024. Bahkan, pada 2025 ekspor diperkirakan menembus lebih dari 500.000 unit.

Yang lebih mengejutkan, para analis industri menyebut 70 hingga 80 persen dari mobil bekas yang diekspor tersebut merupakan mobil bekas nol kilometer.

Mobil bekas 0 km sendiri merujuk pada kendaraan yang keluar dari pabrik dengan jarak tempuh nol atau hanya beberapa ratus kilometer. Mobil ini bisa saja sudah terdaftar atau belum, tergantung skema transaksi, namun dijual melalui jalur mobil bekas meski kondisinya nyaris identik dengan mobil baru. Bahkan, banyak unit masih dilengkapi plastik pelindung bodi dan penutup interior.

Praktik ini tak lepas dari kelebihan kapasitas produksi yang dialami industri otomotif China. Untuk mempercepat perputaran stok dan mengembalikan modal, produsen serta dealer memilih menyalurkan mobil baru ke pasar mobil bekas dengan harga lebih murah.

Meski menguntungkan dari sisi volume penjualan, tren ini juga menimbulkan risiko. Di dalam negeri China, diskon besar-besaran melalui jalur mobil bekas dinilai mengganggu sistem harga dealer resmi. Sementara di pasar internasional, banyak kendaraan diekspor tanpa lokalisasi memadai maupun dukungan purnajual resmi.

Akibatnya, muncul keluhan dari konsumen luar negeri terkait perawatan kendaraan, fungsi perangkat lunak, hingga layanan baterai, terutama untuk mobil listrik.