Dia menegaskan, olahraga biliar merupakan salah satu cabang unggulan Kalsel yang terus menunjukkan peningkatan prestasi di tingkat nasional.
Sejak PON 2008 hingga PON XXI 2024, prestasi atlet biliar Kalsel terus menanjak, bahkan pada PON XXI di Medan berhasil meraih tiga medali emas. Bahkan di ajang Sea Games 2025 Thailand, atlet Kalsel mampu mempersembahkan dua medali perunggu untuk Indonesia.
“Prestasi ini membuktikan bahwa biliar adalah olahraga serius dan berprestasi. Sangat tidak adil jika disamakan dengan hiburan malam. Makanya kami berharap rumah biliar dikeluarkan dari kategori THM yang ada di dalam Perda,” tegasnya.
Menjelang bulan Ramadan, POBSI Kalsel juga mendorong percepatan proses registrasi dan verifikasi rumah biliar. Pasalnya, selama ini rumah biliar kerap menjadi sorotan saat Ramadan, meski sudah menjalankan aktivitas olahraga murni.
“Banyak rumah biliar di Kalsel saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen, sudah masuk kategori olahraga. Kami berharap perlakuannya bisa sama dengan cabang olahraga lain seperti bulu tangkis, futsal, atau basket yang tetap boleh beroperasi,” ungkap Haji Imus.
Ke depan, POBSI Kalsel berencana mengajukan audiensi dan rapat dengar pendapat dengan DPRD serta pemerintah daerah agar regulasi daerah dapat menyesuaikan dan mengeluarkan biliar dari kategori hiburan di masing-masing kabupaten/kota.
“Ini demi kejelasan hukum, kenyamanan pelaku olahraga, dan kemajuan prestasi biliar Kalimantan Selatan,” pungkasnya.
Kalimantanlive.com
Frans








