Regulasi baru juga memperkenalkan indikator penilaian yang mempertimbangkan berbagai skenario penggunaan kendaraan dan solusi teknis, guna mendorong inovasi serta peningkatan efisiensi energi di masa mendatang.
Dengan diberlakukannya aturan ini, produsen diwajibkan melakukan peningkatan teknis pada kendaraan listrik baru agar memenuhi standar.
BACA JUGA: BYD Siap Bentuk Perusahaan Pembiayaan untuk Perkuat Pasar Mobil Listrik di Indonesia
Sebagai contoh, untuk mobil listrik penumpang dengan berat sekitar dua ton, batas maksimum konsumsi energi ditetapkan sebesar 15,1 kWh per 100 kilometer.
Pihak berwenang memperkirakan, peningkatan efisiensi tersebut dapat memperpanjang jarak tempuh kendaraan hingga sekitar 7 persen tanpa menambah kapasitas baterai.
Regulasi ini hanya berlaku untuk kendaraan listrik murni (BEV) dan tidak mencakup kendaraan plug-in hybrid (PHEV) maupun model dengan jangkauan diperluas.
Peningkatan efisiensi yang diatur sepenuhnya berasal dari optimalisasi sistem kendaraan, bukan dari pembesaran baterai.
Selain bersifat teknis, standar ini juga dikaitkan dengan insentif fiskal. Pemerintah China, melalui Kementerian Industri dan Teknologi Informasi, Kementerian Keuangan, serta Administrasi Perpajakan, telah memperbarui persyaratan teknis agar kendaraan listrik tetap memenuhi syarat pembebasan pajak pembelian pada periode 2026–2027. Kendaraan yang tidak memenuhi batas konsumsi energi baru berisiko kehilangan insentif tersebut.







