34 HARI TERLUPAKAN! Pascabanjir dan Longsor, Dusun Sejahtera Bener Meriah Masih Hidup dalam Gelap Gulita

BENER MERIAH, KALIMANTANLIVE.COM – Harapan warga Dusun Sejahtera, Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, kian meredup. Sudah 34 hari berlalu sejak banjir dan longsor menerjang, namun hingga kini aliran listrik tak kunjung kembali, membuat warga terpaksa bertahan hidup dalam gelap gulita setiap malam.

Tidak ada genset darurat, tidak pula terlihat perbaikan jaringan listrik. Tiang-tiang listrik yang roboh dengan kabel menjuntai ke tanah masih dibiarkan tanpa penanganan. Kondisi ini memunculkan rasa kecewa dan putus asa di kalangan warga yang merasa luput dari perhatian.

# Baca Juga :ALARM CUACA TIMUR TENGAH! Uni Emirat Arab Diterjang Badai Pasir, Angin Kencang Picu Lonjakan Nyamuk Berbahaya

# Baca Juga :ANJL0K DI BOX OFFICE! 9 Film Hollywood Paling Gagal 2025, Karya Bong Joon Ho Ikut Tersungkur

# Baca Juga :PERANG TAK TERELAKKAN! Al Shabaab Siap Hancurkan Israel Usai Netanyahu Akui Somaliland

# Baca Juga :Real Madrid Berduka atas Wafatnya Pelatih Valencia dan Tiga Anaknya dalam Tragedi Laut Indonesia

“Dusun kami seperti dilupakan. Kami tidak tahu lagi harus mengadu ke siapa,” ungkap Jamaluddin (38), salah satu warga Dusun Sejahtera, Senin (29/12/2025).

Jalan 2 Kilometer Demi Sekadar Mengisi Daya Ponsel

Ironisnya, desa tetangga yang hanya berjarak sekitar dua kilometer sudah kembali menikmati aliran listrik sejak beberapa pekan lalu. Padahal, Dusun Sejahtera merupakan wilayah terdampak terparah di Desa Rimba Raya. Sedikitnya 10 rumah hanyut, sementara enam warga dinyatakan hilang dalam bencana yang terjadi pada 26 November 2025.

Sekitar dua pekan lalu, petugas PLN sempat mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan. Saat itu, warga dijanjikan perbaikan akan dilakukan setelah akses jalur Tenge Besi dapat dilalui kendaraan pengangkut tiang listrik. Namun meski jalur tersebut telah terbuka sejak sepekan terakhir, tak satu pun petugas kembali terlihat.

“Kalau mau ngecas HP atau senter, kami harus jalan kaki dua kilometer ke desa sebelah,” keluh Jamaluddin.

Trauma Bencana, Aktivitas Terhambat

Meski bantuan sembako dan layanan kesehatan sudah mulai menjangkau warga, ketiadaan listrik menjadi penghambat utama pemulihan kehidupan normal. Trauma akibat banjir dan longsor masih membekas, terlebih saat malam tiba dan hujan kembali turun.

Sebagian warga yang rumahnya masih berdiri kini memilih kembali dari pengungsian. Mereka membersihkan lumpur dan puing-puing secara mandiri, tanpa dukungan alat berat dari pemerintah.

“Saya sudah kembali bekerja di kebun, tapi rasa takut masih ada. Malam gelap, kalau hujan dan terdengar suara keras, susah tidur,” ujar Jamaluddin.