KALIMANTANLIVE.COM – Istilah Superflu belakangan ramai diperbincangkan dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Penyakit ini kerap disebut-sebut sebagai flu “ganas” yang cepat menular dan sulit dikenali. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa Superflu sejatinya bukan istilah medis resmi.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa sebutan Superflu biasanya digunakan oleh masyarakat awam untuk menggambarkan infeksi influenza tipe A H3N2 subclade K. Virus ini dinilai memiliki kemampuan menembus kekebalan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya, sehingga lebih mudah menyebar.
# Baca Juga :TEROBOSAN MEDIS! Terapi Gen Baru BE-CAR7 Bantu 64 Persen Pasien Kanker Ganas Bebas Penyakit
# Baca Juga :Konsumsi Daging Merah Berlebihan Bisa Picu Penyakit Jantung, Ini Saran Dokter
# Baca Juga :Disebut Ada Riwayat Penyakit Vertigo, Seorang Nelayan di Pulau Sembilan ‘Hilang’ Tercebur ke Laut
# Baca Juga :Indonesia Dukung Kemitraan BRICS untuk Atasi Penyakit Terkait Kondisi Sosial
“Pada prinsipnya, menghadapi penyakit menular apa pun, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS,” ujar Piprim dalam Media Briefing IDAI bertajuk Mengenali dan Mewaspadai Superflu yang digelar secara daring, Senin (29/12/2025).
Ia menambahkan, pengalaman selama pandemi Covid-19 seharusnya menjadi pelajaran berharga. Kebiasaan mencuci tangan dengan benar, memakai masker saat sakit, menghindari kerumunan, serta menjaga daya tahan tubuh dinilai masih sangat relevan hingga saat ini.
Berisiko tinggi bagi anak dengan penyakit penyerta
Meski bukan istilah medis, influenza A H3N2 tidak bisa dianggap ringan. IDAI mengingatkan bahwa virus ini dapat menimbulkan dampak serius, khususnya pada anak-anak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Anak dengan riwayat asma, kelainan jantung bawaan, hingga gangguan akibat pola hidup seperti obesitas dan diabetes disebut berisiko mengalami kondisi yang lebih berat jika terinfeksi.
“Anak-anak dengan komorbid, bila tertular influenza tipe A atau varian baru, bisa mengalami komplikasi serius,” tegas Piprim.
Sebagai langkah pencegahan, IDAI menganjurkan imunisasi influenza bagi anak usia enam bulan ke atas. Sementara untuk bayi di bawah usia tersebut, perlindungan dapat diberikan melalui imunisasi influenza pada ibu hamil.
Penularan cepat, satu orang bisa menularkan ke banyak orang
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, menambahkan bahwa laju penularan influenza A H3N2 tergolong sangat cepat. Virus menyebar melalui droplet atau percikan cairan dari batuk, bersin, hingga kontak langsung dengan cairan napas penderita.










