WASPADA ORANG TUA! Psikolog Ungkap 4 Faktor Psikologis Game Online Bisa Picu Kekerasan pada Anak

Dampak Game Kekerasan pada Kerja Otak

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri menambahkan, game online kekerasan dapat memengaruhi perilaku melalui dua mekanisme utama, yakni hormonal dan neurologis.

Menurut Reza, game memicu lonjakan dopamin yang membuat pemain ketagihan. Di sisi lain, ada perubahan pada cara kerja otak, khususnya dalam memproses empati dan emosi.

“Anak-anak yang mencandu game kekerasan jadi sangat ringan mengucapkan kata-kata ekstrem seperti bunuh, tembak, habisi, tusuk. Ini tanda ada yang berubah dalam mekanisme otak mereka,” jelas Reza.

Ia menyebut, pada kondisi normal, kata-kata ekstrem akan memicu dua titik otak sekaligus: berpikir dan merasa. Namun pada anak yang kecanduan game kekerasan, yang aktif hanya pusat berpikir, sementara pusat empati dan emosi melemah.

Akibatnya, kekerasan menjadi sesuatu yang terasa biasa dan tidak lagi menimbulkan rasa ngeri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membentuk pola pikir yang menyerupai karakteristik psikopat.

Edukasi Digital Jadi Kunci

Para ahli sepakat, solusi bukan sekadar melarang game online, melainkan pendampingan, komunikasi emosional, serta edukasi digital yang sehat. Peran orang tua dinilai krusial dalam membantu anak memahami emosi, mengelola frustrasi, dan membangun empati sejak dini.

(kalimantanlive.com/sumber lainnya)

editor : TRI