KALIMANTANLIVE.COM – Sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak kembali memantik kekhawatiran publik terhadap dampak game online, khususnya yang mengandung unsur kekerasan. Meski tidak bisa disimpulkan sebagai penyebab tunggal, para ahli menilai game online dapat menjadi pemicu serius ketika bertemu dengan kondisi psikologis anak yang rentan.
Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi di Sukabumi, Jawa Barat, Mei 2025, ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun nekat membakar belasan rumah warga. Aksi tersebut diduga dipengaruhi oleh tontonan film serta adegan dalam game online yang kemudian ditirunya.
# Baca Juga :NIGERIA MENGAMUK! Libas Uganda 3-1, Elang Super Sapu Bersih Fase Grup Piala Afrika 2025
# Baca Juga :ARSENAL MENGGILA! Hancurkan Aston Villa 4-1, Meriam London Makin Jauh Tinggalkan Man City
# Baca Juga :HARGA EMAS ANJLOK TAJAM! Emas Antam Hari Ini 31 Desember 2025 Tertahan di Rp 2,5 Juta per Gram
# Baca Juga :ANAK PATRICK KLUIVERT BIKIN STAMFORD BRIDGE TERDIAM! Chelsea Ditahan Bournemouth 2-2 di Kandang
Kasus lain yang lebih tragis terjadi di Medan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Seorang anak berusia 12 tahun melukai ibunya dengan pisau saat korban tengah tidur hingga meninggal dunia. Berdasarkan keterangan kepolisian, motif utama aksi tersebut dipicu rasa sakit hati setelah sang ibu menghapus game online yang kerap dimainkan anak tersebut.
Game Bukan Satu-satunya Penyebab
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menegaskan bahwa game online tidak bisa dijadikan kambing hitam tunggal atas tindakan ekstrem anak. Menurutnya, game lebih berperan sebagai pemicu (trigger) dan model perilaku, bukan akar masalah utama.
“Ada faktor kerentanan lain seperti kematangan emosi, adiksi, hingga kemungkinan gangguan kesehatan mental yang tidak terdeteksi, yang membuat tragedi seperti ini bisa terjadi,” ujar Danti saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).
Ia menekankan bahwa dari jutaan anak yang bermain game bernuansa kekerasan, hanya sebagian kecil yang menunjukkan perilaku ekstrem. Artinya, ada dinamika psikologis tertentu yang bekerja di balik kasus-kasus tersebut.
Empat Faktor Psikologis Pemicu Kekerasan Anak
Danti mengungkapkan empat faktor utama yang membuat game online berpotensi memicu perilaku kekerasan pada anak:
1. Otak Anak Belum Matang Sempurna
Pada usia sekitar 12 tahun, bagian otak prefrontal cortex yang berfungsi mengendalikan impuls, logika, dan pertimbangan konsekuensi belum berkembang optimal. Sebaliknya, sistem limbik sebagai pusat emosi justru sangat aktif. Akibatnya, saat emosi memuncak, anak cenderung bertindak impulsif tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
2. Adiksi Game dan Ledakan Dopamin
Game online dirancang untuk memicu pelepasan dopamin secara terus-menerus. Ketika anak sudah mengalami adiksi, game berubah dari sekadar hiburan menjadi kebutuhan emosional. Penghapusan game secara tiba-tiba dapat memicu efek “sakau” berupa kemarahan ekstrem dan agresi tak terkendali.
3. Mekanisme Koping yang Buruk
Bagi sebagian anak, game menjadi pelarian dari masalah di sekolah, rasa kesepian, atau tekanan emosional. Saat “dunia aman” tersebut hilang, anak merasa kehilangan kontrol dan identitas, yang kemudian diekspresikan melalui perilaku agresif.
4. Lingkungan dan Pola Asuh
Larangan tanpa edukasi digital, minim pendampingan, serta hubungan emosional yang renggang dengan orang tua memperparah situasi. Tindakan tegas seperti menghapus game bisa dianggap anak sebagai serangan personal, bukan bentuk kasih sayang atau disiplin.







