Hingga akhir 2025, BPBD Kalsel telah memasang 19 unit Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan 20 unit alat diseminasi informasi berupa sirine peringatan dini di sejumlah wilayah rawan bencana. Sistem peringatan tersebut diperkuat dengan pemantauan lapangan oleh petugas dari Balai Wilayah Sungai.
Dari sisi perencanaan, Pemprov Kalsel juga telah menyiapkan berbagai dokumen kebencanaan, di antaranya Rencana Kontingensi Banjir 2025–2027 serta Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana 2025–2029.
BACA JUGA: Pemprov Kalsel Pastikan Perayaan Malam Natal 2025 Aman, Stabilitas Pangan Tetap Terjaga
Sementara itu, untuk mendukung penanganan darurat, BPBD Kalsel memastikan ketersediaan buffer stock logistik, sekaligus menindaklanjuti permohonan bantuan dari kabupaten/kota yang mulai terdampak peningkatan curah hujan dan banjir rob.
Dukungan logistik tersebut turut diperkuat melalui program Kawasan Siaga Bencana yang dijalankan oleh Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan.
Upaya mitigasi berbasis masyarakat juga terus diperluas melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana). Hingga 2025, tercatat 168 desa di 7 kabupaten/kota dan 21 kecamatan telah tergabung sebagai Destana, yang terdiri dari 33 desa tangguh utama, 59 desa tangguh madya, dan 80 desa tangguh pratama.
Sebagai sarana edukasi dan diseminasi informasi, BPBD Kalsel mengoptimalkan kanal “INGAT SI ANANG”, yang mengintegrasikan data peringatan dini dari BMKG, BNPB, Balai Wilayah Sungai, serta pemantauan CCTV jalan dan sungai.







