JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Munculnya istilah super flu belakangan ini memicu kekhawatiran publik. Namun, pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan super flu tidak mematikan seperti Covid-19, khususnya varian Delta yang sempat memicu lonjakan kematian.
Hingga akhir Desember 2025, Kemenkes RI mencatat sebanyak 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut super flu di Indonesia. Puluhan kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan konsentrasi tertinggi berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
# Baca Juga :Kronologi Lengkap Maling Sandera Lansia di Labusel: Parang Ditempelkan ke Leher, Pelaku Ancam Bunuh Korban
# Baca Juga :Progres Tol IKN Tembus 80 Persen! Bisa Dipakai Mudik Lebaran 2026? Ini Jawaban Pemerintah
# Baca Juga :EMAS ANCAM TEMBUS REKOR! Harga Emas Antam Hari Ini 8 Januari 2026 Bertahan di Rp 2,584 Juta per Gram
Meski jumlah kasus terus dipantau, pemerintah menegaskan situasi masih terkendali.
Menkes: Jangan Panik, Ini Flu Biasa
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Ia menegaskan bahwa super flu sejatinya sama dengan influenza musiman yang sudah lama dikenal dunia medis.
“Pesan saya ke masyarakat, kita harus hati-hati dan sadar bahwa ini ada, tapi tidak usah panik,” ujar Budi saat ditemui di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Menurut Budi, super flu tidak bisa disamakan dengan Covid-19 yang disebabkan oleh virus baru. Influenza A (H3N2) subclade K merupakan bagian dari virus influenza tipe A yang telah lama beredar.
“Ini sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 varian Delta yang dulu mematikan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa istilah super flu lebih bersifat populer di masyarakat. Secara ilmiah, virus tersebut adalah H3N2 yang sudah lama dikenal dan kerap meningkat pada musim tertentu, terutama di negara-negara dengan empat musim.
Penularan Cepat, Tingkat Kematian Rendah
Menkes Budi mengakui bahwa super flu memiliki tingkat penularan yang cepat. Namun, tingkat keparahannya rendah dan dapat diobati dengan pengobatan standar.
“Penularannya memang cepat, tapi kematiannya sangat rendah. Di Indonesia juga kasusnya masih puluhan dan tidak parah. Dengan pengobatan biasa, pasien bisa sembuh,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem imun yang baik menjadi kunci utama agar tubuh mampu melawan virus dengan cepat.
Gejala dan Cara Pencegahan
Gejala super flu umumnya mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, serta nyeri tenggorokan. Masyarakat diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
“Kalau imunitas kita bagus, makan cukup, tidur cukup, olahraga cukup, insya Allah kalau virusnya lemah seperti ini, kita bisa sembuh,” ujar Budi.







