JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tahun 2026 baru berjalan, namun perhatian umat Islam di Indonesia mulai tertuju pada satu momen paling dinanti: awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah. Bulan suci yang diperkirakan jatuh pada Februari–Maret 2026 itu kembali berpotensi diawali dengan perbedaan penetapan.
Kementerian Agama (Kemenag) mengingatkan masyarakat agar menyikapi kemungkinan perbedaan tersebut dengan bijak dan tetap menjaga persatuan.
# Baca Juga :Film Animasi Netflix KPop Demon Hunters Sapu Dua Penghargaan Golden Globe 2026
# Baca Juga :Harga Emas Melejit Awal Pekan, UBS Tembus Rp 2,7 Juta per Gram Hari Ini 12 Januari 2026
# Baca Juga :VIRAL! Aksi Warga Binongko Kepung Polsek, Kapolsek Ditarik ke Polda Sultra Terkait Dugaan Pungli
# Baca Juga :BREAKING CUACA! Kalteng Berawan & Kalsel Diguyur Hujan Lebat Petir, Tabalong–Balangan–Kotabaru Masuk Zona Waspada
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa perbedaan awal puasa bukan hal baru di Indonesia.
“Sangat dimungkinkan terjadinya perbedaan dalam mengawali puasa. Di Indonesia hal ini sudah biasa terjadi dan tidak perlu dipersoalkan. Namun kami tetap mengimbau agar publik dapat mengikuti keputusan pemerintah,” ujar Thobib, Minggu (11/1/2026).
Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Selisih Sehari
Berdasarkan kalender Hijriah pemerintah dan sejumlah organisasi Islam, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun, pemerintah masih akan menetapkan secara resmi melalui Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari 2026.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal puasa Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini menggantikan metode hisab wujudul hilal.
Dengan demikian, terdapat potensi perbedaan satu hari antara keputusan pemerintah dan Muhammadiyah dalam memulai ibadah puasa Ramadhan tahun ini.
Perbedaan adalah Kekayaan, Bukan Sumber Perpecahan
Thobib menegaskan, perbedaan metode penentuan awal bulan—baik melalui hisab maupun rukyah—merupakan tradisi keilmuan Islam yang telah berlangsung sejak lama.
Menurutnya, yang paling penting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.
“Perbedaan jangan sampai menjadi sumber perdebatan yang merusak persatuan umat,” tegasnya.
Metode hisab didasarkan pada firman Allah SWT:
ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5)
Sedangkan rukyah bersandar pada hadis Nabi Muhammad SAW tentang kewajiban berpuasa setelah melihat hilal, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.






