Ketika Rayuan Jadi Senjata: Love Scam Meledak di 2026, OJK Ungkap Kerugian Puluhan Miliar dan Modus Makin Canggih

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Memasuki tahun 2026, publik kembali diingatkan bahwa penipuan digital tak selalu datang lewat tautan mencurigakan atau tawaran investasi instan. Kini, cinta justru menjadi senjata baru dalam kejahatan finansial melalui modus love scam atau penipuan berkedok hubungan asmara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan, love scam menjadi salah satu tren penipuan digital yang terus meningkat dan berlangsung lintas negara. Modus ini memanfaatkan kedekatan emosional korban untuk menguras uang, data pribadi, hingga akses ke rekening.

# Baca Juga :Momen Haru di Banjarbaru: Prabowo Disambut Yel-yel Meriah, Turun Tangan Rapikan Dasi Siswa Sekolah Rakyat

# Baca Juga :BREAKING NEWS: Banjir Bandang Lumpuhkan Donggala, Puluhan Desa Terendam, Akses Jalan dan Jembatan Putus

# Baca Juga :Citra Investor Muda Terguncang, Timothy Ronald Dilaporkan Polisi atas Dugaan Penipuan Kripto Rp 200 Miliar

# Baca Juga :Drama Keluarga Beckham Mencapai Titik Didih, Brooklyn Resmi Jauh dari David dan Victoria

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa sindikat love scam bahkan telah terungkap beroperasi di Indonesia.

“Kasus terbaru ditemukan di Yogyakarta, satu sindikat beroperasi secara internasional,” ujar Friderica dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Jumat (9/1/2026).

Kerugian Love Scam Tembus Rp 49 Miliar

Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat, hingga akhir 2025 terdapat 3.494 laporan korban love scam dengan total kerugian mencapai Rp 49,19 miliar.

Dalam skala lebih luas, IASC menerima 343.402 laporan penipuan sepanjang November 2024 hingga November 2025. Total kerugian korban mencapai Rp 7,8 triliun, dengan dana yang berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar.

Sementara itu, di tingkat global, FBI melaporkan kerugian kejahatan internet sepanjang 2024 menembus 16 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 269,57 triliun.

Apa Itu Love Scam?

Love scam adalah penipuan yang memanfaatkan hubungan emosional, perhatian, dan janji masa depan untuk mendorong korban mengirim uang atau melakukan transaksi tertentu.

Korban sering kali merasa memiliki hubungan spesial dengan pelaku, sehingga tanpa sadar mentransfer dana dalam jumlah besar.

“Korban dimanipulasi secara emosional, merasa punya ikatan khusus, lalu secara sukarela mengirim uang,” jelas Friderica.

Modus ini berisiko tinggi karena dilakukan lintas negara dan terorganisasi, melibatkan skrip percakapan, admin chat, hingga target negara tertentu.

Mengapa Love Scam Sangat Efektif?

Love scam tidak bertumpu pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada rekayasa psikologis. Pelaku membangun rasa aman, menciptakan urgensi, dan mengisolasi korban dari keluarga atau teman.

Otoritas Perilaku Keuangan Inggris (FCA) menyebut korban sering berada dalam “mantra” penipu, sehingga sulit berpikir rasional saat diminta uang.

Situasi ini semakin diperparah dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI), yang membuat profil palsu, suara, hingga skenario cerita makin meyakinkan.

Modus Love Scam yang Paling Sering Terjadi

Beberapa pola yang paling sering muncul, antara lain:

Hubungan intens dalam waktu singkat, lalu bicara soal masa depan.

Alasan darurat, seperti sakit, tertahan di luar negeri, atau rekening diblokir.

Ajakan investasi, terutama kripto atau platform palsu.