BANGKOK, KALIMANTANLIVE.COM – Thailand diguncang tragedi transportasi paling mematikan awal 2026. Sebuah crane konstruksi berukuran raksasa roboh dari proyek rel kereta cepat dan menghantam langsung rangkaian kereta penumpang yang sedang melaju di bawahnya. Sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas, sementara puluhan lainnya luka-luka.
# Baca Juga :KECELAKAAN MAUT! Truk Solar Rem Blong Hantam Pasar Purworejo, 12 Tewas Termasuk 10 Guru SD
# Baca Juga :VIRAL LAGIi! Nadya Almira Dituding Jadi Pelaku Kecelakaan Maut 13 Tahun Lalu – Begini Kronologi Lengkapnya
# Baca Juga :Tiga Tewas, Termasuk Lansia, dalam Kecelakaan Maut di Tol Cipali
# Baca Juga :Kecelakaan Maut di Perlintasan Rel: Ahmad Muslik Tewas Tersambar KA saat Memeriksa Tambak
Peristiwa mengerikan ini terjadi di kawasan Si Khiu, Provinsi Nakhon Ratchasima, sekitar 230 kilometer dari Bangkok, pada Rabu pagi, 14 Januari 2026. Informasi awal menyebutkan crane tersebut digunakan dalam pembangunan jalur kereta cepat layang yang melintas di atas rel kereta konvensional.
Tanpa peringatan, struktur baja raksasa itu ambruk dan jatuh tepat ke lintasan kereta biasa. Pada saat bersamaan, kereta penumpang tujuan Ubon Ratchathani melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Bangkok.
Benturan keras tak terhindarkan. Rangkaian kereta menghantam crane yang roboh, menyebabkan beberapa gerbong anjlok, ringsek, bahkan sempat terbakar. Suara tabrakan dilaporkan terdengar hingga radius beberapa kilometer.
Atap gerbong runtuh, kaca-kaca pecah, dan rangka logam terpelintir hebat. Sejumlah penumpang terjebak di dalam gerbong yang remuk, sementara sebagian lainnya terlempar akibat guncangan dahsyat.
Kepolisian Thailand mengonfirmasi jumlah korban jiwa sementara mencapai 22 orang, dengan sekitar 40 penumpang lainnya mengalami luka-luka, mulai dari ringan hingga kritis. Seluruh korban segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Operasi penyelamatan berlangsung dramatis. Tim SAR harus menggunakan alat berat dan peralatan pemotong baja untuk membuka badan kereta yang tertindih crane. Posisi crane dan gerbong yang saling menumpuk membuat proses evakuasi berjalan sangat sulit dan penuh risiko.







