JAKARTA, Kalimantanlive.com – Penunjukan Michael Carrick sebagai pelatih Manchester United didorong oleh pemahamannya yang kuat terhadap kultur internal klub serta kemampuannya mengambil keputusan tegas di situasi sulit.
Carrick dinilai sebagai figur yang tidak membutuhkan masa adaptasi panjang. Ia menghabiskan 12 tahun sebagai pemain di Old Trafford dan kemudian menjadi bagian staf kepelatihan pada era Jose Mourinho hingga Ole Gunnar Solskjaer. Pengalaman tersebut membuatnya memahami dinamika ruang ganti dan struktur klub secara mendalam.
BACA JUGA: Arsenal Kokoh di Puncak Klasemen Liga Inggris, Jauh Empat Poin dari Bournemouth
Dari sisi teknis, Carrick dikenal memiliki pendekatan langsung dan aktif di lapangan. Saat menjadi asisten Solskjaer (2018–2021), ia lebih sering berinteraksi dengan pemain dan memiliki otoritas alami yang dihormati pemain senior, tanpa pendekatan konfrontatif.
Dalam proses seleksi, Carrick bersaing dengan Solskjaer. Namun manajemen menilai Carrick lebih adaptif dengan struktur organisasi baru klub. Keputusan itu disampaikan secara profesional kepada Solskjaer.
Carrick kemudian membentuk staf kepelatihan yang diisi Jonathan Woodgate, Jonny Evans, Travis Binnion, dan Steve Holland.
Kehadiran Holland, mantan asisten Gareth Southgate, dinilai penting untuk menyeimbangkan karakter Carrick yang tenang dengan pendekatan disiplin dan tuntutan teknis tinggi.









