SIAGA PERANG ARAB! Iran Siapkan Rudal ke Pangkalan AS, Trump Tarik Pasukan – Timur Tengah di Ambang Ledakan

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kawasan Timur Tengah kembali berada di titik paling berbahaya dalam satu dekade terakhir. Amerika Serikat dilaporkan mulai menarik sebagian personel militernya dari sejumlah pangkalan strategis pada Rabu (14/1/2026), menyusul ancaman terbuka Iran yang siap meluncurkan serangan rudal ke pangkalan-pangkalan AS.

Langkah darurat ini diambil setelah Teheran memperingatkan Washington agar tidak ikut campur dalam gejolak domestik Iran yang kini berubah menjadi gelombang kerusuhan nasional terbesar sepanjang sejarah Republik Islam.

# Baca Juga :Kirab Obor Porprov Kalsel 2025 Tiba di Tabalong, Langsung Diterima Wabup Habib Taufan

# Baca Juga :Sebelum Dilantik Prabowo, Ratusan Kepala Daerah Dikirab dari Monas, Warga Antusias

# Baca Juga :Kirab Merah Putih Ke-5, Sekda Ambo Sakka Naik Motor Trail

# Baca Juga :TRAGIS! Pencarian Resmi Ditutup, Satu Anak Pelatih Valencia Masih Hilang di Perairan Labuan Bajo

Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan ancaman keras terhadap pemerintah Iran, menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam jika demonstran anti-pemerintah terus ditekan secara brutal.

Qatar Konfirmasi Penarikan Pasukan AS

Seorang pejabat AS membenarkan bahwa penarikan personel dari beberapa pangkalan utama merupakan langkah pencegahan menghadapi potensi konflik terbuka. Pemerintah Qatar bahkan secara resmi menyatakan bahwa pengurangan pasukan di Pangkalan Udara Al Udeid — pangkalan terbesar AS di Timur Tengah — merupakan respons langsung terhadap ketegangan regional.

Dua pejabat Eropa mengungkapkan bahwa intervensi militer AS bisa terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Sementara itu, pejabat Israel menilai Trump telah mengambil keputusan politik untuk menyerang, meski detail operasi masih dirahasiakan.

Iran Ancam Negara Tetangga

Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran telah memberi peringatan resmi kepada Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki.

“Jika Amerika menyerang Iran, maka seluruh pangkalan AS di wilayah negara-negara tersebut akan menjadi target sah,” tegas pejabat itu.

Kontak diplomatik antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff pun dilaporkan telah dihentikan sepenuhnya, menandai putusnya jalur komunikasi terakhir kedua negara.

Trump: “Bantuan Sedang Dalam Perjalanan”

Dalam wawancara dengan CBS News, Trump kembali mengobarkan api konflik. Ia berjanji akan mengambil “tindakan yang sangat kuat” jika Iran mengeksekusi para demonstran.

Trump bahkan secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk terus berdemonstrasi dan mengambil alih institusi negara, sembari menyatakan bahwa bantuan Amerika “sedang dalam perjalanan”.

Pernyataan ini langsung ditanggapi Teheran sebagai provokasi langsung dan dalih untuk intervensi militer.

Ribuan Tewas, Puluhan Ribu Ditangkap

Kelompok HAM HRANA melaporkan sedikitnya 2.403 pengunjuk rasa dan 147 aparat tewas dalam kerusuhan. Pemerintah Iran sendiri mengklaim lebih dari 2.000 korban jiwa dan menuduh adanya campur tangan asing di balik kekacauan tersebut.

Lebih dari 18.000 orang kini ditahan, sementara pengadilan dipercepat untuk menjatuhkan hukuman berat, termasuk ancaman eksekusi massal.

Meski skala kerusuhan sangat besar, pejabat Barat menilai aparat keamanan Iran masih memegang kendali dan rezim belum berada di ambang kejatuhan.