Rupiah Terancam Jebol Rp 17.000, Gejolak Politik AS dan Konflik Global Dorong Dolar Menggila Pekan Depan

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tekanan terhadap rupiah diperkirakan kian berat pada pekan depan. Nilai tukar mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis Rp 17.000 per dollar AS seiring memburuknya sentimen global dan lemahnya faktor domestik.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 16.840 hingga Rp 17.000 per dollar AS. Menurutnya, kombinasi gejolak politik Amerika Serikat, konflik geopolitik, serta isu kebijakan dalam negeri menjadi pemicu utama pelemahan rupiah.

# Baca Juga :FIFA Buka Suara soal Dampak Kebijakan Visa AS Jelang Piala Dunia 2026

# Baca Juga :Kekayaan Sergey Brin Melejit! Salip Jeff Bezos, Resmi Jadi Orang Terkaya Ketiga Dunia

# Baca Juga :Sidang Migor Makin Panas, Hakim Turun Langsung Cek Ferrari dan Moge, Fakta Baru Terkuak di Pengadilan

# Baca Juga :Indonesia Jadi Episentrum Baru BYD di Asia, Investasi Pabrik Raksasa Subang Siap Ubah Peta Industri Mobil Listrik 2026

Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada dinamika politik Amerika Serikat setelah Ketua The Fed Jerome Powell dipanggil oleh kejaksaan agung. Meskipun Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan tidak berniat memecat Powell, kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral AS belum sepenuhnya mereda.

Situasi ini diperparah oleh pernyataan Powell sendiri yang menilai persoalan tersebut sarat kepentingan politik. Kondisi tersebut membuat pasar melihat stabilitas kebijakan moneter AS berada dalam tekanan.

Ketegangan geopolitik juga terus meningkat. Hubungan AS dan Iran masih diliputi bayang-bayang konflik terbuka, sementara perang Rusia-Ukraina kembali memanas dengan serangan drone di berbagai wilayah strategis.

Belum lagi sengketa Greenland antara Denmark dan AS yang menambah daftar panjang ketidakpastian global. Seluruh rangkaian sentimen ini mendorong dollar AS semakin perkasa, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di dalam negeri, tekanan rupiah turut dipengaruhi sentimen negatif dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait kebijakan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp 276 triliun di perbankan yang dinilai tidak memberi dampak signifikan bagi perekonomian.

News Feed