KALIMANTANLIVE.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (19/1/2026) di level 9.133,88, menguat 0,64 persen. Penguatan indeks ditopang oleh performa sejumlah saham unggulan, di tengah tekanan jual investor asing yang masih berlanjut.
Saham Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu motor penggerak IHSG setelah melonjak 4,96 persen. Selain itu, DSSA turut menguat 0,96 persen, disusul VKTR yang naik 0,90 persen.
# Baca Juga :Nisfu Syaban 2026, Tinggal Sekitar 2 Minggu Lagi, Catat Tanggal dan Amalannya
# Baca Juga :Inter vs Arsenal Diprediksi Sengit, Arteta Sebut Duel Mirip Musim Lalu di Giuseppe Meazza
# Baca Juga :Prakiraan Cuaca Kalsel–Kalteng Selasa 20 Januari 2026: Hujan Ringan Dominasi, Waspada Petir di Barito Timur
Namun, pergerakan pasar tidak sepenuhnya searah. Sejumlah saham berkapitalisasi besar justru mengalami koreksi, seperti AMMN yang turun 4,67 persen, BREN melemah 1,29 persen, serta TLKM terkoreksi 1,09 persen.
Asing Masih Net Sell
Di tengah penguatan IHSG, aktivitas investor asing masih mencatat arus dana keluar. Sepanjang perdagangan, asing membukukan net sell Rp 542,75 miliar di pasar reguler dan Rp 710,51 miliar di seluruh pasar.
Dari sisi sektoral, enam dari sebelas sektor berakhir di zona hijau. Sektor consumer cyclicals mencatat penguatan tertinggi sebesar 2,45 persen, sementara sektor transportation menjadi yang tertekan paling dalam dengan penurunan 1,23 persen.
Berita Emiten
INCO: Volume Naik, Tapi Harga Nikel Tekan Kinerja
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan pendapatan sebesar USD 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun sepanjang periode 11M25. Capaian ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte.
Produksi nikel matte INCO tumbuh 3 persen secara tahunan menjadi 66.848 ton year to date (YTD), sementara penjualan naik 2 persen menjadi 67.351 ton YTD. Selain itu, penjualan bijih nikel saprolit tercatat mencapai 1,91 juta wet metric ton (wmt).
Meski volume meningkat, kinerja INCO masih tertekan oleh penurunan harga nikel global. Sepanjang 2025, harga rata-rata nikel tercatat di USD 15.203,58 per metrik ton, lebih rendah dibandingkan USD 16.869,11 per metrik ton pada 2024.
Ke depan, harga nikel diperkirakan berangsur membaik seiring kebijakan pembatasan produksi oleh pemerintah hingga maksimal 260 juta ton, turun dari 379 juta ton pada 2025. Proyeksi harga nikel rata-rata 2026 diperkirakan naik ke USD 17.055,93 per metrik ton.









