KALIMANTANLIVE.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya, Kalimantan Barat, resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil menyusul meningkatnya frekuensi kebakaran di sejumlah wilayah yang berpotensi mengancam permukiman warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya, Herry Purwoko, mengatakan status siaga darurat telah ditetapkan sejak 14 Januari 2026 dan berlaku selama 14 hari ke depan.
# Baca Juga :Daftar Lengkap Temuan Barang Pribadi Korban Kecelakaan ATR 42-500, Milik Kopilot hingga Pegawai KKP
# Baca Juga :Usai Terjaring OTT, Bupati Pati Sudewo Tiba di Gedung KPK Jakarta
# Baca Juga :Ajik Krisna Ungkap Detik-detik Mencekam di Helikopter Bersama Raffi Ahmad, Terjebak Kabut Tebal di Bali Utara
# Baca Juga :VIRAL! Sadio Mane Rayakan Gelar Juara Piala Afrika 2025 Bersama Istri dan Anak
“Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sudah menetapkan status siaga darurat mulai 14 Januari 2026 sampai 14 hari ke depan. Saat ini sudah terdeteksi titik api di tiga kecamatan, yakni Sungai Raya, Sungai Kakap, dan Rasau Jaya,” ujar Herry, Selasa (20/1/2026).
Herry menjelaskan, sebagian besar wilayah Kubu Raya merupakan lahan gambut dengan luas mencapai sekitar 70–80 persen dari total wilayah kabupaten. Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman karhutla.
Lahan gambut memiliki karakteristik mudah terbakar dan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Selain itu, pengelolaan tata air di wilayah gambut juga menjadi kendala tersendiri bagi tim pemadam kebakaran.
“Api bisa cepat menjalar di lahan gambut. Di sisi lain, kami juga mengalami keterbatasan sumber air untuk pemadaman, ditambah angin yang cukup kencang,” jelasnya.
Menurut Herry, pengaturan tata air yang tepat sangat dibutuhkan agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan, terutama dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Selain kondisi alam, akses menuju lokasi kebakaran juga kerap menjadi hambatan. Medan yang sulit dan jarak tempuh yang tidak mudah menyulitkan petugas dalam menjangkau titik api.
“Dalam beberapa kasus, akses menuju lokasi karhutla sangat menyulitkan upaya penanganan dan pemadaman,” katanya.
Herry mencontohkan kejadian karhutla yang baru-baru ini terjadi di wilayah Sungai Raya Dalam. Api yang membakar lahan gambut hampir menjalar ke kawasan permukiman warga. Beruntung, tim pemadam kebakaran bergerak cepat sehingga api berhasil dikendalikan sebelum meluas.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim kering, dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran.







