JAKARTA, KALIMANTANANLIVE.COM – Hari bahagia Muhadi dan Ela Laela nyaris tenggelam oleh banjir yang melanda kawasan RW 16 Pedongkelan, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Minggu (18/1/2026) pagi.
Hujan deras yang turun sejak dini hari membuat air perlahan merangsek masuk ke halaman rumah. Genangan setinggi sekitar 20 sentimeter mengubah prosesi pernikahan yang telah lama dipersiapkan menjadi perjuangan penuh emosi dan air mata.
# Baca Juga :Terbongkar Dugaan Pelecehan Guru SD di Tangsel, Modus Uang Jajan hingga Foto Korban di Media Sosial
# Baca Juga :Aktivitas Meningkat, Gunung Ile Lewotolok Meletus 164 Kali Rabu Pagi Disertai Gemuruh
# Baca Juga :Gaji Guru Bisa Kalah dari Sopir MBG, Pengamat Desak Pemerintah Bentuk Badan Kesejahteraan Guru
# Baca Juga :KPK Akui Sempat Kesulitan OTT Bupati Pati Sudewo, Bingung Lacak Peran “Tim 8”
Namun, Muhadi tak memilih mundur. Dengan langkah mantap, ia menggendong Ela melewati genangan air menuju pelaminan, seolah menantang keadaan demi menepati janji suci pernikahan.
Banjir membuat segalanya terasa tak mungkin. Jalan becek, kursi tamu terendam, dan dekorasi pernikahan nyaris sia-sia. Meski demikian, cinta dan tekad pasangan ini justru tumbuh di tengah ujian yang datang tanpa diundang.
Nyaris Batalkan Pernikahan
Ela mengaku kondisi banjir sempat mengguncang mentalnya. Ia bahkan sempat berniat membatalkan seluruh prosesi karena takut tamu undangan tak bisa hadir.
“Saya sempat putus asa. Pagi-pagi melihat banjir, saya sampai mau membatalkan acara karena takut orang-orang tidak datang,” ujar Ela, dikutip dari tayangan KompasTV, Rabu (21/1/2026).
Masakan dan dekorasi yang telah disiapkan sejak jauh hari membuat Ela semakin terpukul. Ia memilih diam dan pasrah, hingga dukungan keluarga datang menjadi penyelamat.
Ayah dan Keluarga Jadi Kekuatan
Di tengah kegelisahan itu, ayah dan keluarga besar Ela menjadi jangkar harapan. Mereka terus memberi semangat agar Ela tetap bersabar dan melanjutkan prosesi.
“Bapak saya terus mendorong saya. Kata beliau, ‘Sabar-sabar,’ alhamdulillah,” ucap Ela dengan suara bergetar.
Dukungan keluarga itulah yang perlahan mengusir rasa takut. Kata sabar berubah menjadi doa yang menguatkan, menahan langkah agar tak menyerah pada keadaan.
Akad Dipindah ke Musala
Banjir memaksa perubahan rencana secara mendadak. Akad nikah yang semula akan digelar di rumah akhirnya dipindahkan ke musala yang lebih tinggi.
“Mukjizat Tuhan, air akhirnya surut. Akad nikah dipindahkan ke musala, dan saya digendong oleh suami saya,” kata Ela.
Di tengah genangan dan keterbatasan, Ela menyebut peristiwa itu sebagai mukjizat. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tak selalu hadir dalam kondisi sempurna.
Tamu Tetap Datang, Harapan Tetap Hidup
Menjelang siang, air perlahan surut. Optimisme pun kembali tumbuh. Kerabat jauh, termasuk keluarga dari Pandeglang, tetap hadir memberikan restu meski lingkungan masih basah dan becek.
Mereka datang bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai saksi bahwa cinta yang diuji oleh alam tetap mampu bertahan.










