KALIMANTANLIVE.COM – China kembali membuat gebrakan besar di dunia teknologi global. Negeri Tirai Bambu itu resmi mengoperasikan data center bawah laut pertama miliknya, menandai babak baru dalam pengembangan infrastruktur internet dan komputasi global.
Pusat data bawah laut tersebut berlokasi di kawasan khusus Lin-gang Special Area, Shanghai, tepatnya di wilayah pembangkit listrik lepas pantai. Proyek ini digarap oleh operator Shanghai Hicloud bersama sejumlah perusahaan milik negara, antara lain China Telecom, Shenergy, dan CCCC Third Harbor Engineering, dengan nilai investasi mencapai sekitar 226 juta dolar AS.
# Baca Juga :Harga Emas Antam Pecah Rekor Lagi! Hari Ini Tembus Rp 2,79 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
# Baca Juga :Kapolda Metro Jaya Kocok Ulang Jabatan, Kasat Reskrim hingga Kapolsek Dimutasi Mendadak, Ini Daftarnya
# Baca Juga :BMKG: Cuaca Kalsel–Kalteng Didominasi Cerah Berawan, Banjarmasin dan Kotawaringin Timur Masih Berpotensi Hujan
# Baca Juga :Barcelona Taklukkan Slavia Praha 4-2, Blaugrana Jaga Peluang Lolos Langsung ke 16 Besar
Langkah China ini sekaligus melampaui eksperimen serupa yang pernah dilakukan Microsoft melalui Project Natick. Microsoft pertama kali mengumumkan Project Natick pada 2013 dan pada 2018 menenggelamkan 855 server yang dikemas dalam kapsul ke lepas pantai Skotlandia. Namun, pada 2024, Microsoft mengonfirmasi bahwa proyek tersebut dihentikan setelah dinilai sukses sebagai tahap uji coba atau proof of concept.
Berbeda dengan Microsoft, China justru melangkah lebih jauh dengan mengoperasikan pusat data bawah laut secara komersial.
Server Ditenggelamkan 35 Meter di Bawah Laut
Secara teknis, server data center China ditempatkan di dalam kapsul berukuran besar yang diberi tekanan khusus dan lapisan anti-korosi. Kapsul tersebut kemudian ditenggelamkan hingga kedalaman sekitar 35 meter di bawah permukaan laut.
Pendinginan server mengandalkan suhu alami air laut, sementara pasokan energi berasal dari pembangkit angin lepas pantai. Dengan konsep ini, data center diklaim mampu mencapai Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15.
Angka tersebut jauh lebih efisien dibandingkan pusat data konvensional di darat, yang rata-rata memiliki PUE di kisaran 1,50 hingga 1,60.
Lebih Hemat Energi dan Ramah Lingkungan
Dikutip dari TechRadar, pada tahap awal, fasilitas data center bawah laut ini telah menghasilkan kapasitas sekitar 2,3 megawatt. Ke depannya, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 24 megawatt pada fase pengembangan selanjutnya.
Pengembang menyebutkan bahwa sekitar 95 persen kebutuhan listrik akan dipasok dari energi angin lepas pantai. Dengan demikian, penggunaan air tawar serta ketergantungan terhadap jaringan listrik utama dapat ditekan secara signifikan.
Pihak pengelola Lin-gang menegaskan bahwa dampak maritim dan termal dari proyek ini masih berada dalam batas yang dapat diterima. Meski begitu, klaim tersebut masih menunggu hasil verifikasi independen.







