NASIB Guru Honorer di Berau, Tak Lagi Diakui Negara Tapi Tetap Mengajar Meski Digaji Tak Pasti

Sekolah Kekurangan Guru

Kondisi serupa dialami Satria Dwi Saputra (27), guru honorer mata pelajaran olahraga di salah satu sekolah dasar negeri di Tanjung Redeb. Ia mulai mengajar sejak Januari 2024 dan bertugas bersama satu guru honorer lainnya.

Di sekolah tersebut, keterbatasan tenaga pendidik membuat Satria harus menangani beberapa kelas sekaligus.

“Ada dua guru olahraga. Saya mengajar kelas 1 sampai kelas 3, rekan saya kelas 4 sampai kelas 6,” ujarnya.

Sebagai guru olahraga, jam mengajar Satria tidak selalu penuh. Namun demikian, ia tetap diwajibkan mengikuti jam dinas sekolah seperti guru lainnya.

“Walaupun jam olahraga tidak setiap hari, kami tetap ikut jam dinas dan aturan sekolah,” katanya.

Penghasilan Pas-pasan

Dalam dua tahun terakhir, Satria menerima gaji berkisar Rp 3 juta hingga Rp 3,3 juta per bulan. Menurutnya, jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

“Kalau dibilang cukup, ya pas-pasan. Apalagi saya sudah berkeluarga dan punya anak,” ujarnya.

Berbeda dengan Reza, Satria tidak memiliki pekerjaan sampingan dan memilih fokus mengajar, meski menyadari penghasilan sebagai guru honorer belum menjamin kesejahteraan.

Ia menilai, masih banyak sekolah dasar di Kabupaten Berau yang sebenarnya membutuhkan guru, terutama untuk mata pelajaran tertentu seperti olahraga. Namun, tidak semua sekolah memiliki anggaran untuk menggaji tenaga honorer.

“Kalau guru honorer ini benar-benar hilang, dampaknya besar. Banyak sekolah bisa kekurangan guru,” katanya.

Menunggu Kepastian Pemerintah

Berdasarkan data, jumlah guru honorer yang masih aktif mengajar di Kabupaten Berau tercatat sebanyak 387 orang. Keberadaan mereka hingga kini menjadi penopang utama proses belajar mengajar di sejumlah sekolah dasar negeri, di tengah keterbatasan jumlah guru ASN.

Para guru honorer tersebut masih menunggu kejelasan implementasi kebijakan nasional terkait penataan status PNS dan PPPK. Di tengah ketidakpastian itu, mereka tetap bertahan mengajar demi keberlangsungan pendidikan anak-anak di daerah.

“Guru itu sektor penting. Harapan kami sederhana, ada kepastian status dan keberlanjutan masa depan,” kata Satria.

(kalimantanlive.com/berbagai sumber)

editor : TRI