JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kebiasaan mengorek hidung atau ngupil sering dianggap sepele dan dilakukan tanpa berpikir panjang. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa kebiasaan ini berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, bahkan dikaitkan dengan risiko penyakit yang hingga kini belum dapat disembuhkan.
Peneliti menyebutkan bahwa ngupil dapat menjadi jalur masuk bakteri berbahaya, salah satunya Chlamydia pneumoniae, ke dalam tubuh. Bakteri ini dikenal sebagai penyebab berbagai infeksi saluran pernapasan.
# Baca Juga :OJK Atur Penilaian Kesehatan PPDP Berbasis Risiko dalam POJK 33/2025
# Baca Juga :7 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Ibu Hamil demi Kesehatan Janin
# Baca Juga :BPJS Kesehatan Gandeng Jamdatun Kejagung, Perkuat Fondasi Hukum Program JKN Nasional
# Baca Juga :7 Air Rebusan Herbal yang Disebut Bisa Membantu Menjaga Kesehatan Pembuluh Darah
Berdasarkan keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, Chlamydia pneumoniae merupakan bakteri yang dapat merusak lapisan saluran pernapasan.
“Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit yang merusak tenggorokan, saluran napas, hingga paru-paru,” tulis CDC, seperti dikutip dari Unilad.
Infeksi akibat bakteri tersebut umumnya memicu infeksi telinga, sinus, dan sakit tenggorokan. Namun dalam kondisi tertentu, CDC memperingatkan bakteri ini juga bisa menyebabkan penyakit yang lebih serius seperti bronkitis, laringitis, hingga pneumonia.
Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Alzheimer
Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah penelitian terbaru mengaitkan Chlamydia pneumoniae dengan penyakit Alzheimer. Pada tahun 2022, peneliti dari Griffith University, Australia, melakukan studi menggunakan tikus sebagai model penelitian.
Hasil studi menunjukkan bahwa kebiasaan mengorek hidung dapat membuat bakteri tersebut masuk melalui saraf penciuman di hidung. Dari sana, bakteri kemudian berpindah langsung menuju otak.
Setelah mencapai otak, bakteri tertentu diketahui dapat merangsang pengendapan protein beta amiloid, yang berperan dalam pembentukan plak otak. Plak inilah yang selama ini diyakini menjadi penyebab utama penyakit Alzheimer, dengan gejala seperti gangguan daya ingat, kesulitan berbahasa, hingga perubahan perilaku.
Ahli saraf James St John menegaskan temuan tersebut merupakan terobosan penting dalam memahami mekanisme penyakit Alzheimer.
“Kami adalah yang pertama menunjukkan bahwa Chlamydia pneumoniae dapat langsung masuk melalui hidung ke otak, di mana ia dapat memicu patologi yang menyerupai penyakit Alzheimer,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meski temuan tersebut berasal dari model tikus, potensinya tetap mengkhawatirkan bagi manusia.
Proses Lambat, Risiko Jangka Panjang
Meski demikian, para ilmuwan menekankan bahwa proses ini tidak terjadi secara instan.
“Kami tidak berpikir bahwa masuknya bakteri ke otak berarti seseorang akan langsung mengalami demensia dalam waktu dekat,” ujar St John.
“Ini kemungkinan merupakan proses yang lambat dan berkembang selama puluhan tahun sebelum menimbulkan gejala,” tambahnya.







