Harga Emas Terbang Tinggi Awal 2026, Cetak Rekor Baru, Lebih Untung Emas Fisik atau Emas Kertas? Ini Penjelasan Ahli

Emas untuk Diversifikasi Portofolio

Bagi investor yang tidak terlalu khawatir terhadap krisis global, emas tetap relevan sebagai alat diversifikasi portofolio.

“Daya tarik emas terletak pada perannya sebagai penyeimbang. Secara historis, emas tidak berkorelasi langsung dengan saham dan obligasi, sehingga dapat meredam volatilitas,” ujar Casey.

Catatan sejarah menunjukkan, saat indeks S&P 500 anjlok lebih dari 22 persen pada 2002, harga emas justru melonjak hampir 25 persen. Pada krisis keuangan global 2008, emas juga naik hampir 6 persen ketika pasar saham dunia terperosok hingga 37 persen.

Meski demikian, emas tidak selalu bergerak berlawanan dengan saham. Sepanjang 2025, harga emas dan pasar saham sama-sama mencatat kinerja positif. Para ahli menilai kombinasi berbagai aset dengan karakter berbeda membuat portofolio lebih stabil dalam jangka panjang.

Untuk emas kertas, investor dapat memilih reksa dana atau ETF emas yang umumnya didukung cadangan fisik dan mampu mengikuti harga spot emas secara akurat.

Jangan Jadikan Emas Fondasi Utama

Meski harga emas sedang berada di level tertinggi, para pakar mengingatkan agar emas tidak dijadikan aset utama dalam portofolio investasi.

“Emas tidak menghasilkan arus kas seperti saham atau obligasi,” ujar Alex Canellopoulos, perencana keuangan dari Vista Capital Partners.

“Nilainya sepenuhnya bergantung pada harga yang bersedia dibayar pembeli berikutnya,” katanya.

Menurutnya, emas tetap bermanfaat untuk menangkap momentum kenaikan harga, namun porsinya sebaiknya tetap terbatas sebagai pelengkap, bukan tulang punggung investasi.

(kalimantanlive.com/sumber lainnya)

editor : TRI