Harga Emas Terbang Tinggi Awal 2026, Cetak Rekor Baru, Lebih Untung Emas Fisik atau Emas Kertas? Ini Penjelasan Ahli

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kilau emas semakin menyilaukan di awal 2026. Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, setelah melonjak sekitar 60 persen sepanjang 2025. Saat ini, logam mulia tersebut diperdagangkan di atas level 4.900 dolar AS per ounce, didorong meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Lonjakan harga ini semakin menegaskan posisi emas sebagai aset safe haven. Di tengah pasar global yang bergejolak, investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke emas yang dinilai lebih stabil dan tahan krisis.

# Baca Juga :Jepang Siapkan Kereta Tercepat di Dunia, Kecepatan Tembus 600 Km Per Jam, Tokyo–Nagoya Cuma 40 Menit

# Baca Juga :Gabung Militer AS, Kezia Syifa Wajib Lepas Status Tentara Jika Ingin Kembali Jadi WNI, Ini Penjelasan Pakar Hukum

# Baca Juga :VIRAL! Warga NTT Tembak Mati Burung Hantu, BRIN Ingatkan Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Ledakan Hama

# Baca Juga :Marc Klok Buka Suara Usai Shayne Pattynama Gabung Persija, Kapten Persib Singgung Persaingan Juara Super League

Sejumlah faktor global menjadi pemicu reli emas. Mulai dari penyelidikan federal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, operasi militer Amerika Serikat di Venezuela, hingga meningkatnya ketegangan ekonomi akibat dorongan AS untuk menguasai Greenland.

“Kita memasuki era di mana permintaan untuk mengamankan logam kritis dan komoditas strategis sangat kuat dalam dekade ini,” ujar Kepala Strategi Logam MKS PAMP, Nicky Shiels, kepada CNBC, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Emas Fisik atau Emas Kertas?

Secara umum, investor memiliki dua pilihan utama untuk berinvestasi emas, yakni emas fisik dalam bentuk koin atau batangan, serta emas kertas melalui reksa dana dan exchange-traded fund (ETF) yang mengikuti pergerakan harga emas dunia.

Perencana keuangan bersertifikat dari AE Advisors, Mike Casey, menilai pilihan tersebut sangat bergantung pada tujuan dan profil risiko masing-masing investor.

“Saya menyarankan porsi emas fisik tidak lebih dari 5 hingga 10 persen dari portofolio terdiversifikasi, terutama bagi investor yang menghargai kedaulatan aset atau mengantisipasi ketidakstabilan berkepanjangan,” jelas Casey.

“Di luar itu, emas kertas biasanya jauh lebih efisien,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengubah komposisi portofolio investasi.

Emas Fisik, Tameng Saat Krisis

Emas fisik kerap dipilih sebagai lindung nilai dalam kondisi ekstrem. Selama ribuan tahun, emas telah berfungsi sebagai alat tukar dan penyimpan nilai lintas generasi.

Perencana keuangan dari Free State Financial Planning, John Bell, menilai emas fisik memiliki keunggulan karena berada di luar sistem perbankan.

“Saya tidak berpikir dunia akan kiamat, tetapi saya menyukai fakta bahwa emas dan perak tidak bergantung pada sistem perbankan,” kata Bell.

“Jika berbentuk fisik, emas bisa diakses kapan saja dan dijual langsung ke pedagang lokal,” lanjutnya.

Kepemilikan emas fisik juga dinilai menghilangkan risiko pihak ketiga (counterparty risk). Investor tidak bergantung pada lembaga keuangan atau manajer investasi untuk mencairkan asetnya.

Namun, emas fisik memiliki keterbatasan. Investor harus membayar premi 5–10 persen di atas harga spot, ditambah biaya penyimpanan. Dari sisi likuiditas, emas fisik juga kalah cepat dibandingkan ETF karena tidak bisa dijual secara instan.