Hari Ketiga Tumpahan CPO di Sumenep Kian Mengerikan, Ikan dan Biota Laut Ditemukan Mati, Warga Cemas Ekosistem Rusak Permanen

SUMENEP, KALIMANTANLIVE.COM – Dampak tumpahan puluhan ton minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di perairan utara Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, semakin terasa. Memasuki hari ketiga, warga mulai menemukan ikan dan berbagai biota laut mati di sekitar lokasi pencemaran, Sabtu (24/1/2026).

Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah ikan kecil membusuk di sela-sela karang, kawasan yang sebelumnya dipenuhi gumpalan minyak CPO. Tak hanya ikan, kepiting dan biota laut lainnya juga ditemukan mati, memperkuat kekhawatiran warga akan kerusakan lingkungan laut yang semakin meluas.

# Baca Juga :Harga Emas Terbang Tinggi Awal 2026, Cetak Rekor Baru, Lebih Untung Emas Fisik atau Emas Kertas? Ini Penjelasan Ahli

# Baca Juga :Jepang Siapkan Kereta Tercepat di Dunia, Kecepatan Tembus 600 Km Per Jam, Tokyo–Nagoya Cuma 40 Menit

# Baca Juga :Gabung Militer AS, Kezia Syifa Wajib Lepas Status Tentara Jika Ingin Kembali Jadi WNI, Ini Penjelasan Pakar Hukum

# Baca Juga :VIRAL! Warga NTT Tembak Mati Burung Hantu, BRIN Ingatkan Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Ledakan Hama

Peristiwa ini bermula pada Kamis (22/1/2026), saat sebuah kapal tongkang pengangkut CPO dari Kalimantan Selatan menuju Gresik terdampar di perairan sisi utara Pulau Gili Iyang akibat cuaca buruk. Kapal tersebut dilaporkan kandas di atas karang dan mengalami kebocoran, menyebabkan sekitar 3.000 kiloliter CPO tumpah ke laut.

Salah seorang warga setempat, Fathoni, mengungkapkan bahwa temuan ikan mati sudah mulai terlihat sejak sehari sebelumnya. Mayoritas ikan yang mati berukuran kecil dan berada tak jauh dari pusat tumpahan minyak.

“Sudah ada ikan-ikan kecil yang kami temukan mati di sekitar lokasi tumpahan minyak ini,” ujar Fathoni.

Ia menambahkan, pencemaran minyak mentah tersebut tidak hanya berdampak pada ikan. Beberapa biota laut lain seperti kepiting dan kerang juga ditemukan dalam kondisi mati.

“Kepiting, kerang, juga ada yang mati. Setahu saya, minyak mentah memang sangat berbahaya bagi laut,” lanjutnya.

Temuan tersebut membuat warga semakin cemas terhadap keberlangsungan ekosistem laut di Pulau Gili Iyang, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Desak Solusi Nyata

Fathoni dan warga lainnya berharap langkah konkret dan cepat segera dilakukan oleh pihak terkait untuk menangani tumpahan minyak tersebut. Mereka menilai tanpa penanganan serius, kerusakan ekosistem laut berpotensi bersifat jangka panjang.

“Kami berharap ada upaya nyata dan cepat untuk membersihkan serta memulihkan laut agar bisa kembali seperti semula,” tegasnya.

News Feed