77,2 Ton Ikan Nila Mati di Sungai Barito, Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 2,7 Miliar

“Seluruh ikan nila siap jual di keramba jaring apung yang dikelola Pokdakan di Kecamatan Bakumpai dan Marabahan mati. Namun ikan lele dan patin sejauh ini masih aman,” kata Kepala DKPP Batola, Suwartono.

Menyikapi masalah ini, DKPP Batola telah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Selatan, serta Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Mandiangin untuk mengetahui sumber masalah yang mengakibatkan kematian massal ikan nila di keramba jaring apung serta kolapsnya ikan-ikan liar di Sungai Barito.

Baca juga : Ungkap Pembunuhan Desa Beringin Batola, Kapolsek Alalak : Motifnya Asmara

Sebab, meski diduga kuat kejadian ini diakibatkan oleh menurunnya kualitas air Sungai Barito, namun belum diketahui turunnya kualitas air tersebut disebabkan oleh faktor apa.

“Untuk upaya sementara saat ini kami menyarankan kepada Pokdakan agar bisa memasang blower atau aerator guna meningkatkan oksigen di dalam keramba,” ujar Suwartono.

Sementara itu salah seorang pembudidaya ikan keramba apung, Suryadi mengakui kejadian ini sangatlah merugikan.

“Kejadian ini tentu saja merugikan dan sangat memukul usaha kami para pengusaha ikan nila,” ujar anggota Pokdakan di Marabahan ini.

Dari hasil uji sampel yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola, menurunnya kualitas air salah satunya dikarenakan oleh rendahnya Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut di Sungai Barito.