Saat Pedagang Es Gabus Difitnah dan Diduga Dianiaya Aparat di Kemayoran: Luka Fisik, Trauma, dan Klarifikasi yang Terlambat

DEPOK, KALIMANTANLIVE.COM – Suderajat (49) tak pernah menyangka es gabus yang ia jual untuk menyambung hidup justru membawanya pada pengalaman pahit. Pedagang keliling asal Depok itu mengaku menjadi korban fitnah sekaligus dugaan kekerasan oleh oknum aparat Polri dan TNI saat berjualan di Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).

Akibat peristiwa tersebut, Suderajat mengalami luka di bahu kanan dan pipi. Ia juga mengaku masih trauma dan belum berani kembali berjualan.

# Baca Juga :Begini Motif dan Kronologi Pembunuhan yang Dilakukan Oknum Polisi Terhadap Mahasiswi ULM

# Baca Juga :Oknum Polisi Polres Banjarbaru, Ditetapkan Sebagai Tersangka Pembunuhan Mahasiswi ULM

# Baca Juga :GEMPAR! Oknum Polisi di Luwu Diduga Coba Perkosa Tahanan Wanita, Kapolres Janji Pemecatan!

# Baca Juga :Dari Kades, Manajemen PT NPR Hingga Oknum Polisi dilaporkan putra Dayak Ini ke Kejaksaan Negeri Muara Teweh

“Bahu kanan saya disabet, ditendang juga. Pipi saya luka karena kena es yang dilempar,” kata Suderajat saat ditemui wartawan di Depok, Selasa (27/1/2026).

Ditahan, Diinterogasi, hingga Alami Kekerasan

Peristiwa bermula ketika Suderajat tengah berkeliling menjajakan es gabus dan es kue seperti biasa. Ia kemudian dihampiri sejumlah orang yang berpura-pura menjadi pembeli.

Menurut pengakuannya, es yang dijual justru diinjak-injak dan langsung dituding sebagai es beracun berbahan spons.

“Mereka bilang ini es racun. Esnya dibejek-bejek sampai hancur,” ujarnya.

Tak lama berselang, Suderajat diamankan oleh aparat. Di situlah, ia mengaku mengalami perlakuan yang membuatnya terpukul secara fisik dan mental.

“Saya disuruh berdiri, disuruh ganti kaki, disuruh bangun berkali-kali. Saya bilang ini es asli, tapi tetap dibilang es spons,” tuturnya.

Ia menyebut sempat menerima pukulan dan tendangan, terutama di bagian bahu. Es yang telah dihancurkan juga disebut dilempar ke wajahnya hingga melukai pipi dekat mata.

Pulang dengan Dagangan Hancur dan Rasa Takut

Suderajat baru kembali ke rumahnya di Depok pada Minggu (25/1/2026) dini hari. Seluruh dagangannya rusak dan tak bisa dijual.

Sejak kejadian itu, ia memilih berhenti berjualan sementara waktu.

“Sudah tiga hari saya nggak jualan. Takut kalau ke sana lagi, takut kejadian terulang,” ujarnya lirih.

Dipaksa Makan Es Gabus

Kasus ini semakin menyita perhatian publik setelah video yang menampilkan Bhabinkamtibmas Kelurahan Rawa Selatan Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Heri Purnomo viral di media sosial.

Dalam video tersebut, es gabus Suderajat disebut berbahan spons tanpa hasil uji laboratorium. Pada potongan lain, Suderajat bahkan terlihat dipaksa memakan es gabus yang dijualnya.

“Kalau ini berbahaya, yang nanggung kamu, bukan anak-anak,” terdengar suara aparat dalam video yang beredar luas.

Video tersebut menuai kecaman publik karena dinilai menghakimi, mempermalukan, dan merugikan pedagang kecil tanpa dasar ilmiah.

Fakta Laboratorium: Es Gabus Aman Dikonsumsi

Setelah kegaduhan meluas, Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh dagangan Suderajat.

Hasilnya tegas: tidak ditemukan kandungan berbahaya.

“Produk tersebut layak dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya,” ujar Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra, Minggu (25/1/2026).

Untuk memastikan ketenangan publik, sampel juga dikirim ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri. Hasil lanjutan masih menunggu proses uji.

Polisi turut menelusuri lokasi produksi es di Depok dan memastikan tidak ada penggunaan spons atau bahan berbahaya dalam proses pembuatan.