Tutup Usai Bertahan 78 Tahun, Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Sampaikan Permintaan Maaf

SINGAPURA, KALIMANTANLIVE.COM – Tirai panjang sejarah kuliner Minang di Singapura akhirnya ditutup. Warong Nasi Pariaman, warung nasi Padang legendaris di kawasan Kampong Gelam, resmi mengumumkan penutupan permanen setelah 78 tahun melayani pelanggan lintas generasi.

Lewat pernyataan emosional di media sosial, pihak Warong Nasi Pariaman menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas pengumuman yang dilakukan secara mendadak, sekaligus mengucapkan terima kasih atas dukungan yang mengalir selama puluhan tahun.

# Baca Juga :Video Viral Tikus dalam Bungkusan Nasi Padang di Banjarmasin Berlanjut Saling Lapor

# Baca Juga :Di Rutan, Nikita Mirzani Pesan Pizza dan Nasi Padang hingga 700 Porsi, untuk Siapa Aja Ya?

# Baca Juga :Badan Gizi Nasional SPPG Sawahan Padang Buka Lowongan Akuntan, Deadline 14 September

# Baca Juga :Siaran Langsung Semen Padang Vs Persija Malam Ini! Duel Penentu Papan Atas Super League 2025-2026

“Keputusan yang Sangat Berat”

Dalam unggahan di Facebook pada Rabu (21/1/2026), pengelola Warong Nasi Pariaman menegaskan bahwa keputusan menutup usaha bukanlah hal yang mudah.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kesetiaan Anda selama bertahun-tahun,” tulis pihak restoran.

Mereka juga secara terbuka meminta pengertian dari para pelanggan setia.

“Kami memohon maaf atas pengumuman yang mendadak ini. Ini adalah keputusan yang sangat berat bagi kami,” lanjut pernyataan tersebut.

Seiring dengan pengumuman itu, Warong Nasi Pariaman menyatakan tidak lagi menerima reservasi meja. Seluruh layanan dilakukan berdasarkan siapa datang lebih dulu hingga hari terakhir operasional.

Restoran legendaris ini dijadwalkan tutup permanen pada 31 Januari 2026.

Alasan Penutupan Masih Jadi Tanda Tanya

Hingga kini, pihak pengelola belum mengungkap alasan pasti di balik keputusan penutupan.

The Straits Times melaporkan telah mencoba menghubungi restoran tersebut sejak 20 Januari, namun tidak mendapatkan respons. Salah satu pemilik, Abdul Munaf Isrin, juga memilih tidak memberikan penjelasan saat diwawancarai media lokal Berita Harian.

Meski tak dikonfirmasi langsung, laporan CNA sebelumnya menyoroti lonjakan drastis harga sewa ruko di kawasan Kampong Gelam dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa pelaku usaha menyebut tarif sewa melonjak dari sekitar 3.000 dolar Singapura menjadi hampir 10.000 dolar Singapura per bulan, sebuah tekanan besar bagi usaha kuliner tradisional.