Pasar Saham Indonesia Crash! IHSG Anjlok Parah 2 Hari, Kredit dan Belanja Masyarakat Terancam Tertahan

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt selama dua hari berturut-turut setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga menembus ambang penurunan 8 persen.

Dikutip, Kamis (29/1/2026), trading halt diberlakukan pada Rabu (28/1/2026) dan kembali dilakukan pada Kamis pagi (29/1/2026).

# Baca Juga :Harga Emas Antam Hari Ini 28 Januari 2026 Melejit Rp 52.000, Tembus Rp 2,968 Juta per Gram

# Baca Juga :Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru di Atas US$5.000, Investor Berbondong-bondong Cari Aset Aman

# Baca Juga :Daftar Harga Mobil BYD Terbaru Januari 2026, Termurah Mulai Rp199 Juta

# Baca Juga :Harga Emas Terbang Tinggi Awal 2026, Cetak Rekor Baru, Lebih Untung Emas Fisik atau Emas Kertas? Ini Penjelasan Ahli

Setelah kebijakan tersebut diterapkan, IHSG pada pukul 09.59 WIB tercatat turun 835,20 poin atau 10,04 persen ke level 7.485,35.

Indeks dibuka di posisi 8.027,83, namun langsung tertekan aksi jual besar-besaran hingga mencapai titik terendah harian di level 7.481,99.

Anjloknya IHSG selama dua hari memicu kekhawatiran publik. Lantas, apa dampaknya bagi masyarakat jika kondisi ini berlanjut?

Ekonom: Sinyal Awal Memburuknya Iklim Investasi

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai gejolak pasar saham saat ini dapat menjadi sinyal awal memburuknya iklim investasi di Indonesia.

Jika pelemahan terus terjadi, dampak lanjutan yang harus diwaspadai adalah arus keluar modal asing (capital outflow).

“Kalau terus memburuk yang terjadi adalah capital outflow berdampak ke pelemahan rupiah,” ungkap Bhima, Kamis (29/1/2026).

Namun, Bhima menyebut tekanan terhadap rupiah belum terlalu terasa karena dolar AS juga sedang melemah.

“Kita masih bersyukur, rupiah memburuk dibanding mata uang ASEAN lain, tapi dolar AS juga sedang melemah,” jelasnya.

Dampak Langsung: Bank dan Konsumen Sama-sama Menahan Diri

Bhima menegaskan, market crash di pasar modal memberikan pesan bahwa situasi investasi sedang kurang baik.

Kondisi tersebut dapat membuat sektor perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Bank jadi sangat hati-hati menyalurkan kredit, konsumen juga sama menahan belanja,” katanya.

Artinya, masyarakat bisa merasakan dampak tidak langsung berupa:

Kredit lebih sulit disalurkan

Aktivitas belanja melemah

Dunia usaha menunda ekspansi

Penyebab IHSG Anjlok: Faktor Domestik Lebih Dominan

Bhima menilai kejatuhan IHSG lebih dipicu persoalan dalam negeri, bukan tekanan global.

Beberapa faktor pemicu antara lain:

Keluhan MSCI terkait transparansi pasar

Kebijakan aneksasi izin 28 perusahaan di bawah Danantara

Defisit APBN melebar mendekati 3 persen

“Fundamental ekonomi memang sedang rapuh, begitu ada faktor teknis, sentimen negatifnya tinggi,” pungkas Bhima.