Legenda Kuliner Indonesia Tutup Tirai! 78 Tahun Bertahan, Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Resmi Tutup Hari Ini

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Sabtu, 31 Januari 2026 menjadi penanda berakhirnya sebuah era. Warong Nasi Pariaman, warung nasi Padang tertua di Singapura, resmi menutup pintunya setelah bertahan selama 78 tahun melayani pecinta kuliner Nusantara.

Berlokasi di 738 North Bridge Road, kawasan Kampong Glam, rumah makan legendaris ini telah menjadi saksi sejarah panjang sejak pertama kali didirikan pada 1948 oleh Haji Isrin, perantau asal Pariaman, Sumatera Barat. Selama hampir delapan dekade, Warong Nasi Pariaman tak sekadar menjual makanan, tetapi juga menghadirkan rasa rindu akan kampung halaman bagi banyak orang.

# Baca Juga :Bersih-bersih Internal! 66 Pegawai Bea Cukai Dijatuhi Sanksi Sepanjang 2025, 10 Orang Dipecat

# Baca Juga :Hadapi Galatasaray, Juventus Diingatkan Tak Terjebak Bayang-bayang Osimhen

# Baca Juga :Tak Tergoyahkan! Toyota Kukuh Jadi Raja Otomotif Dunia, Jual Lebih dari 11 Juta Mobil Sepanjang 2025

# Baca Juga :Pengakuan Jujur Florian Wirtz: Adaptasi di Liverpool Ternyata Tak Semudah Bayangan

Kabar penutupan ini ramai diperbincangkan sejak sepekan terakhir. Melalui unggahan di akun Instagram resmi @pariamanmasakanpadang pada 20 Januari 2026, pihak pengelola mengumumkan bahwa hari ini menjadi hari terakhir operasional warung legendaris tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pemilik maupun pengelola belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan penutupan. Namun, banyak pihak menduga tingginya biaya sewa di kawasan Kampong Glam menjadi salah satu faktor utama yang memaksa warung tersebut berhenti beroperasi.

Antrean Panjang Sejak Pagi

Pada hari-hari terakhir operasionalnya, Warong Nasi Pariaman diserbu pelanggan. Sejak pagi, antrean panjang sudah terlihat mengular di depan warung. Antrean dibagi menjadi dua jalur, yakni untuk makan di tempat dan pesanan bungkus.

Menariknya, meski dikenal sebagai ikon kuliner Indonesia di Singapura, mayoritas pelanggan yang datang justru warga lokal. Sekitar 80 persen pengantre adalah warga Singapura, sementara sisanya berasal dari Malaysia dan Indonesia.

Warung yang mulai buka pukul 07.30 pagi ini bahkan belum sepenuhnya siap ketika pelanggan berdatangan. Beberapa meja dan kursi masih belum tersusun rapi, namun hal itu tak menyurutkan niat para pengunjung untuk menunggu.

Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah. Antrean makan di tempat mulai mereda menjelang pukul 10.00 waktu setempat, namun antrean pesanan bungkus tetap padat hingga siang hari.

Rela Menunggu Hampir Sejam Demi Suapan Terakhir

Banyak pelanggan rela menghabiskan waktu hampir satu jam demi bisa menyantap nasi Padang terakhir di Warong Nasi Pariaman. Prosesnya dimulai dari antre, memilih lauk di etalase, hingga akhirnya mendapatkan meja.

Karena lonjakan pengunjung, sistem pelayanan sempat disesuaikan. Pelanggan diarahkan untuk langsung mencari tempat duduk terlebih dahulu dan melakukan pembayaran setelah selesai makan.

Meski padat, para pelayan tetap bekerja cekatan. Inilah yang membuat antrean panjang tetap bisa terurai dalam waktu relatif singkat, meski suasana tetap ramai dan penuh emosi.