JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Aktivitas gempa susulan pascagempa utama di Pacitan, Jawa Timur, terus dipantau ketat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hingga Sabtu (7/2/2026), tercatat 24 gempa susulan dengan kecenderungan aktivitas yang mulai menurun.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa kekuatan gempa susulan bervariasi, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,0 dan terkecil 2,2. Pada fase awal, intensitas gempa sempat meningkat, namun kini frekuensinya berangsur berkurang.
#baca juga:Gempa Bumi Dahsyat Magnitudo 7,7 Goyang Myanmar Hingga Thailand, Gedung di Bangkok Ambruk
#baca juga:Warning BMKG: Terjadi Gempa Bumi Magnitudo 2,8 SR di Tabalong Kalimantan Selatan!
#baca juga:Gempa Mulai Sering Terjadi di Banua, BPBD Kalsel Direkomendasi Petakan Bahaya Guncangan Gempa Bumi
BMKG menilai kondisi tersebut sebagai tanda peluruhan energi gempa. Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak lengah dan terus mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.
Periode aktivitas paling padat terjadi pada dini hari hingga pagi setelah gempa utama. Dalam rentang waktu pukul 01.00 hingga 06.00, tercatat lonjakan gempa susulan, bahkan sempat mencapai 11 kejadian dalam satu pagi.
BMKG Ingatkan Warga Tetap Siaga
Pemantauan seismik terus difokuskan di wilayah selatan Pulau Jawa, terutama di sekitar pusat gempa Pacitan. Walaupun tren susulan mulai melandai, kewaspadaan masyarakat tetap menjadi prioritas.
BMKG mengingatkan agar warga tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengacu pada rilis resmi.
Dampak Gempa Terasa di Sejumlah Daerah
Gempa Pacitan juga memicu kerusakan di beberapa wilayah, termasuk Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.
Di Jawa Tengah, sedikitnya 17 bangunan dilaporkan rusak di Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, dan Sukoharjo. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Sementara di DIY, puluhan fasilitas umum serta rumah warga terdampak. Data sementara mencatat 47 orang mengalami luka.







