NEW YORK, Kalimantanlive.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang semakin parah di Jalur Gaza, semua penyeberangan, termasuk Rafah, harus dibuka tanpa batasan untuk pengiriman bantuan.
PBB memperingatkan bahwa membuka perbatasan Rafah hanya untuk individu tanpa pengiriman bantuan kemanusiaan tidak akan memperbaiki kondisi yang memburuk di lapangan. Pasokan penting masih tertahan di Mesir dan Yordania karena blokade Zionis Israel sejak Maret 2025.
BACA JUGA: Disorot Dunia, Korea Selatan Setop Adopsi Anak ke Luar Negeri! Target Nol pada 2029 Usai Ditekan PBB
Juru bicara UNRWA, Jonathan Fowler, menekankan bahwa membiarkan orang masuk sementara bantuan dilarang tidak akan mengurangi penderitaan di Gaza. Menurutnya, penghambatan pasokan menjadi salah satu penyebab utama kondisi kemanusiaan yang tetap kritis.
Fowler menjelaskan, meski ada peningkatan kecil pasokan bantuan dan barang komersial selama musim panas 2025, hal itu jauh dari cukup untuk mengimbangi kehancuran akibat bencana kemanusiaan yang disebutnya ulah manusia.
Anak-anak terus menderita kelaparan, persediaan medis terbatas, dan wabah penyakit meluas di tengah runtuhnya sistem air, sanitasi, dan krisis tempat tinggal.
Menurut Fowler, sedikitnya 600 truk bantuan per hari diperlukan untuk menopang warga Gaza. Jumlah di bawah itu berarti krisis akan terus berlanjut, apalagi dengan pembatasan jenis bantuan yang diizinkan dan jam operasional terbatas di perbatasan.
Ia juga menyoroti bahwa larangan berkelanjutan terhadap UNRWA pascagencatan senjata menunjukkan pilihan politik yang menargetkan organisasi kemanusiaan terbesar di Gaza, meski UNRWA memiliki kapasitas dan pengalaman operasional yang luas.







