“Sebelum ada dua, jadi kita sudah ada lima alat deteksi yang akan mendeteksi penemuan secara genetik, kami juga ada alat ronsen portable,” ujarnya.
Dijelaskannya, tingkat kerawanan yang mudah terpapar TBC tergantung status gizi, imunitas dalam tubuh seseorang yang rendah.
“Jadi status gizi, imunitas rendah sangat rawan seperti ibu hamil, bayi kurang gizi dan kurang gizi secara keseluruhan serta kalau lansia tergantung pola hidup,” jelas Rapolo.
Diketahui, penanganan TBC pada 2025 dengan melakukan skrining terhadap 2.400 orang terduga suspek, ada sebanyak 702 orang yang dinyatakan positif TBC.
Kalimantanlive.com/ A Hidayat









